Melalui Medsos, Trump Ajak Negara Lain Amankan Selat Hormuz.(dok, net)
GoSumatera.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendesak negara lain untuk turut serta mengamankan Selat Hormuz dengan mengirimkan kapal perang. Ia berharap jalur pelayaran utama tersebut tetap aman untuk dilewati kapal-kapal tanker.
Trump turut mengharapkan Cina, Jepang, Prancis, dan Korea Selatan mengirim kapalnya ke jalur pelayaran tersebut. Di jalur itu sejumlah kapal tanker mendapatkan serangan dari Iran semenjak AS dan Israel melakukan invasi ke Negeri Para Mullah dua pekan lalu.
Keinginan Trump ini disampaikannya melalui media sosial Truth Social pada Sabtu (14/3/2026). Dia menyebut dengan banyaknya kapal perang turut serta bersama AS di Selat Hormuz, maka jalur pelayaran ini "tetap terbuka dan aman".
"Semoga China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara-negara lain yang terdampak oleh kendala buatan ini akan mengirimkan kapal ke wilayah tersebut sehingga Selat Hormuz tidak lagi menjadi ancaman dari negara yang telah sepenuhnya kehilangan pengaruhnya," tulis Trump dikutip BBC, Minggu (15/3/2026).
Trump mengeklaim "100 persen kemampuan militer Iran" sudah dihancurkan. Lantas, kenapa AS masih butuh kehadiran kapal perang lain untuk amankan Selat Hormuz?
Trump berdalih, meski militer Iran telah hancur namun Teheran masih memungkinkan "mengirim satu atau dua drone, menjatuhkan ranjau, atau meluncurkan rudal jarak dekat di suatu tempat di sepanjang, atau di dalam, jalur air ini".
"Amerika Serikat akan membombardir habis-habisan garis pantai, dan terus menembak jatuh perahu dan kapal Iran dari perairan. Dengan satu atau lain cara, kita akan segera membuka Selat Hormuz, menjadikannya aman dan bebas!" ungkap Trump.
Di sisi lain, Trump turut mengancam Iran agar tidak lagi mengusik kapal-kapal tanker yang melewati Selat Hormuz. Jika hal itu tidak diindahkan, AS menargetkan untuk menyerang infrastruktur minyak Iran yang cukup vital di Pulau Kharg. Saat ini AS telah menyerang fasilitas militer di pulau itu, namun tidak pada infrastruktur minyaknya.
Apa yang Terjadi Jika Iran Menutup Jalur Pelayaran Selat Hormuz?
Selat Hormuz adalah jalur pelayaran terpenting di dunia untuk transit kapal tanker minyak mentah. Setiap bulannya ada sekitar 3.000 kapal yang melewatinya.
Produsen minyak dan gas di Timur Tengah -- seperti Irak, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab -- memanfaatkannya untuk mengirim minyak ke negara pelanggan. Sepanjang 2025 terdapat distribusi 20 juta barel minyak melewati Selat Hormuz yang ditaksir bernilai 600 miliar dolar AS.
Apabila jalur di Selat Hormuz ditutup dan diancam Iran, maka tidak ada kapal tanker yang berani lewat. Akibatnya, harga minyak akan semakin tinggi, termasuk naik pula ongkos kirimnya.
"Meskipun tidak ada blokade fisik, ancaman dari Iran ditambah serangan pesawat tak berawak dan rudal, menyebabkan kapal tanker tidak dapat melewati selat tersebut," kata kepala analis di Global Risk Management, Arne Lohmann Rasmussen, dikutip BBC.
Harga minyak telah melonjak hingga hampir menyentuh 120 dolar AS pada Senin lalu semenjak Iran berkonflik dengan AS dan Israel. Sewa kapal tanker super juga melonjak pesat.
Menurut data London Stock Exchange Group, kapal tanker untuk mengangkut minyak dari Timur Tengah ke Cina mencapai lebih dari 400.000 dolar AS pada pekan lalu. Hal ini akan merugikan negara-negara Teluk yang menggantungkan pendapatan negara dari penjualan minyak.
Selat Hormuz, yang terletak di antara Iran dan Semenanjung Arab, merupakan jalur pelayaran strategis selebar hanya 33,8 km dan menghubungkan Teluk Persia dengan Samudera Hindia.
Sekitar 16,5 juta barel minyak per hari, setara 25% dari perdagangan minyak laut dunia, melewati selat ini.
Selain minyak, selat ini juga penting untuk ekspor gas alam cair (LNG), terutama dari Qatar yang menyuplai lebih dari seperlima LNG dunia.
Meskipun Iran tidak memiliki otoritas hukum untuk menutup selat, mereka telah berulang kali mengancamnya sebagai bentuk tekanan terhadap negara-negara Barat.(**)
Komentar0