AS Kembali Luncurkan Serangan Udara Baru ke Wilayah Iran.(dok,,net)
GoSumatera.com - Amerika Serikat (AS) kembali meluncurkan gelombang serangan udara baru ke wilayah Iran pada hari Rabu waktu setempat. Langkah ini diambil militer AS guna menekan kemampuan Teheran dalam menargetkan kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Komando Pusat AS (US Central Command/CENTCOM) mengumumkan operasi tersebut melalui akun resmi mereka di media sosial X, hanya beberapa jam setelah Presiden Donald Trump menyatakan gencatan senjata antara kedua negara kemungkinan telah "berakhir". Sebelum meluncurkan serangan, Trump juga sempat menyebutkan AS "kemungkinan besar akan menyerang" Iran malam ini.
“Atas arahan Panglima Tertinggi, pasukan Komando Pusat AS telah mulai melakukan serangan tambahan terhadap Iran untuk lebih menurunkan kemampuan mereka dalam mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz,” tulis CENTCOM di X.
Amerika Serikat menuntut pertanggungjawaban Iran atas agresi tidak beralasan yang baru-baru ini terjadi terhadap pelayaran komersial dan awak sipil yang bernavigasi secara bebas di jalur air internasional yang vital.
Dampak dari serangan ini langsung terasa di wilayah pesisir Iran. Berdasarkan laporan media pemerintah Iran, IRNA, sekitar 10 ledakan terdengar di kota pelabuhan selatan Chabahar dan kota pesisir Konarak. Peristiwa ini juga menyebabkan pemadaman listrik massal.
“Listrik juga terputus di sebagian wilayah kota Chabahar,” lapor IRNA, sembari menambahkan bahwa insiden tersebut tengah diselidiki.
Selain itu, kantor berita semi-resmi Iran, Fars News, melaporkan suara ledakan hebat di dekat kota Bandar Abbas dan Sirik sekitar pukul 23.15 waktu setempat. Beberapa ledakan terdengar bersumber dari arah laut di lepas pantai barat Sirik. Fars menyebutkan sistem pertahanan udara Iran sempat aktif dan "menyerang target musuh" di wilayah tersebut.
Konflik yang kembali memanas ini berdampak langsung pada aktivitas maritim di Selat Hormuz. Berdasarkan data MarineTraffic, setidaknya ada 20 kapal komersial yang transit dalam 24 jam terakhir. Angka ini merosot tajam dibanding sebelum perang, di mana rata-rata 110 kapal melintas setiap harinya.
Tak hanya itu, gangguan navigasi berupa aksi GPS spoofing massal juga dilaporkan kembali meningkat. Puluhan kapal tiba-tiba hilang dari dasbor pantauan atau terdeteksi di lokasi yang salah.
Bagi Amerika Serikat, pembukaan dan pengamanan Selat Hormuz merupakan syarat mutlak dalam negosiasi dengan Iran. Jalur ini merupakan urat nadi pasar energi global, karena menampung sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia sebelum perang meletus.(**)
Komentar0