Rupiah Tembus Rp 18 Ribu Per Dolar, Apa Dampaknya bagi Warga?.(dok, threads)
GoSumatera.com - Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus Rp 18.027 per dolar AS menjadi perhatian berbagai kalangan. Di tengah tekanan tersebut, masyarakat diminta mulai memperkuat ekonomi daerah dengan memperbanyak konsumsi produk lokal sebagai salah satu langkah menjaga perputaran ekonomi domestik.
Data Bank Indonesia per 5 Juni 2026 menunjukkan nilai tukar rupiah berada di level Rp 18.027 per dolar AS. Angka tersebut menjadi salah satu titik terlemah dalam beberapa tahun terakhir dan berpotensi berdampak pada kenaikan harga berbagai barang yang bergantung pada bahan baku maupun komponen impor.
Produk Lokal Bisa Jadi Penyangga Ekonomi
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Malang (UM) Prof Dr Puji Handayati SE MM Ak CA CMA menjelaskan, pelemahan rupiah terjadi akibat berbagai faktor yang saling berkaitan. Salah satunya adalah meningkatnya permintaan dolar AS di pasar valuta asing.
“Mengacu pada teori permintaan dan penawaran valuta asing, ketika permintaan terhadap dolar AS meningkat sementara pasokannya terbatas, nilai dolar akan menguat dan rupiah mengalami depresiasi,” ujarnya.
Menurut dia, kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada sektor keuangan. Pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan harga barang impor yang pada akhirnya memicu kenaikan biaya produksi di berbagai sektor usaha.
Dampaknya dapat dirasakan masyarakat melalui kenaikan harga sejumlah barang dan jasa yang menggunakan bahan baku atau komponen dari luar negeri.
Dampak Pelemahan Rupiah Perlu Diantisipasi
Prof Puji menilai pemerintah perlu mengambil langkah strategis untuk mengurangi risiko ekonomi yang lebih besar. Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran dalam menjaga daya tahan ekonomi nasional.
Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah memperbanyak penggunaan dan pembelian produk dalam negeri. Selain membantu pelaku usaha lokal, langkah tersebut dinilai mampu menjaga perputaran uang di daerah serta memperkuat fondasi ekonomi domestik.
“Momentum ini perlu disikapi secara matang dengan mempercepat transformasi ekonomi Indonesia menuju sistem yang lebih mandiri dan berkelanjutan,” tegasnya.
Menurut dia, semakin kuat sektor usaha lokal dan industri dalam negeri, semakin besar pula kemampuan ekonomi Indonesia menghadapi tekanan eksternal, termasuk gejolak nilai tukar yang dipengaruhi kondisi global.(**)
Komentar0