TUCoGUAlTSz7GSroTUrlBSAlGA==

Melalui OFAC, AS Ancam Sanksi Kapal yang Bayar Upeti ke Iran di Selat Hormuz

Melalui OFAC, AS Ancam Sanksi Kapal yang Bayar Upeti ke Iran di Selat Hormuz.(dok, AFP)

GoSumatera.com - Amerika Serikat (AS), melalui Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC), mengancam akan menjatuhkan sanksi ekonomi kepada industri pelayaran global apabila membayar upeti kepada Iran demi melintasi Selat Hormuz.

Peringatan tersebut menambah lapisan tekanan baru dalam ketegangan antara AS dan Iran terkait kendali atas Selat Hormuz. 

Diketahui, navigasi di Selat Hormuz tidak lagi sama sejak pecahnya konflik bersenjata antara AS dan Israel pada Sabtu (28/2/2026) lalu. 

Sekitar seperlima dari perdagangan minyak dan gas alam dunia melewati selat yang terletak di mulut Teluk Persia tersebut sebelum perang terjadi. Namun, Iran menutup selat itu bagi lalu lintas normal dengan menyerang dan mengancam akan menyerang kapal-kapal setelah perang dengan AS dimulai.

Iran kemudian mulai menawarkan jalur aman kepada beberapa kapal dengan mengalihkan mereka melalui rute alternatif yang lebih dekat ke garis pantainya. 

Dalam sistem ini, dilakukan pemungut biaya atas layanan tersebut. ​Sistem tersebut kemudian memicu AS mengeluarkan peringatan untuk memberikan sanksi kepada perusahaan yang memberikan upeti kepada Iran.

​"Risiko sanksi ini tetap ada tanpa memandang metode pembayaran," tulis pernyataan resmi OFAC yang dirilis Jumat waktu setempat dikutip dari AFP, Sabtu (2/5/2026).

​Otoritas AS merinci bahwa modus pembayaran yang diminta Iran, yakni dengan transfer aset digital (kripto), sistem pertukaran informal (swaps), pembayaran natura (in-kind payments), ​hingga kedok donasi amal atau pembayaran melalui kedutaan besar Iran. 

Oleh karena itu, AS memastikan pemberian sanksi berlaku universal, baik bagi entitas asal Amerika Serikat maupun perusahaan internasional non-AS.

Dengan begitu, kapal tanker dari negara mana pun yang tunduk pada tuntutan Iran berisiko masuk dalam daftar hitam sistem keuangan global yang dikuasai AS. ​Kebijakan ini disebut sebagai bagian dari strategi "tekanan maksimal" untuk memutus aliran dana ke rezim Teheran di tengah situasi perang.(**)

Komentar0

Type above and press Enter to search.