TUCoGUAlTSz7GSroTUrlBSAlGA==

Murka dengan Ulah Israel Serang Beirut Lebanon, Iran Kembali Tutup Selat Hormuz

Murka dengan Ulah Israel Serang Beirut Lebanon, Iran Kembali Tutup Selat Hormuz.(dok, brivel tv)

GoSumatera.com - Iran kembali menutup Selat Hormuz setelah Israel melancarkan serangan secara brutal dan besar-besaran ke Beirut, Lebanon pada Rabu (8/4).

Kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pun terancam gagal.

Kapal tanker bernama AUROURA, melakukan putaran 180 derajat secara mendadak saat hendak keluar dari selat dan kembali ke Teluk Persia.

Menurut data di Marine Traffic, lalu lintas kapal yang melalui Selat Hormuz belum berubah selama 24 jam sejak Iran mengumumkan akan membuka blokade jalur pelayaran penting tersebut.

Sejak dimulainya serangan AS ke Iran, rata-rata hanya tujuh kapal — termasuk tanker, kapal pengangkut curah (bulk carrier), dan kapal kontainer — yang melintasi selat itu setiap hari.

Mengutip data ABC News, jika dibandingkan dengan sebelum perang, lebih dari 130 kapal melewati Selat Hormuz, per hari.

Iran mengumumkan pada Rabu (8/4/2026) “jalur aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan dengan koordinasi bersama Angkatan Bersenjata Iran”.

Namun dalam sehari setelah pengumuman tersebut, hanya tujuh kapal yang tercatat melakukan perjalanan melintasi selat itu.

Tiga dari kapal kargo curah itu dimiliki oleh perusahaan China, dan tiga lainnya dimiliki oleh perusahaan Yunani.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa ketentuan gencatan senjata sangat jelas yakni Amerika Serikat harus memilih antara menghormati gencatan senjata atau melanjutkan perang melalui Israel.

“Syarat-syarat gencatan senjata Iran-AS jelas dan eksplisit: AS harus memilih—gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel. AS tidak bisa mendapatkan keduanya,” tulis Araghchi di akun X @araghchi, Rabu (8/4/2026).

Araghchi menekankan bahwa dunia menyaksikan pembantaian di Lebanon pada serangan terbaru Israel Rabu (8/4/2026) kemarin. Araghchi juga meminta AS tegas dengan menyebut bahwa tanggung jawab kini berada di tangan AS untuk menegakkan komitmennya.

“Dunia melihat pembantaian di Lebanon. Bola ada di tangan AS, dan dunia sedang mengamati apakah AS akan bertindak sesuai dengan komitmennya,” tandasnya.

Iran Kembali Tutup Selat Hormuz karena Israel Serang Lebanon
Iran dan AS sepakat untuk melakukan gencatan senjata selama dua minggu. AS setuju untuk berhenti menyerang Iran, sedangkan Iran juga menyanggupi untuk membuka jalur pelayaran Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.

Hanya selang beberapa jam sejak pernyataan tersebut dibuat, Israel menghujani Lebanon dengan serangan udara dengan 100 target dalam waktu 10 menit pada Rabu (8/4).

Serangan yang menewaskan 254 orang itu membuat kekacauan luar biasa di Lebanon, apalagi melihat target serangan adalah kawasan padat penduduk sipil. Serangan Israel ke Lebanon ini juga membuat Iran marah.

Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperingatkan Israel dan AS bahwa jika serangan terhadap Lebanon tidak dihentikan, mereka akan memberikan balasan.

PM Shehbaz Sharif, yang memediasi kesepakatan gencatan senjata, meminta semua pihak menahan diri dan menghormati gencatan senjata selama dua minggu untuk memberi ruang diplomasi menyelesaikan konflik.

"Saya dengan sungguh-sungguh dan tulus mendesak semua pihak untuk menahan diri dan menghormati gencatan senjata selama dua minggu, sebagaimana telah disepakati, sehingga diplomasi dapat memainkan peran utama menuju penyelesaian konflik secara damai," pinta Shehbaz dikutip ABC News Kamis (9/4/2026).

Namun, Presiden Donald Trump dan juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan, karena Hizbullah meluncurkan serangan terhadap Israel dari wilayah itu.

"Lebanon bukan bagian dari gencatan senjata. Hal itu telah disampaikan kepada semua pihak yang terlibat dalam gencatan senjata," tutur Leavitt.(**)

Komentar0

Type above and press Enter to search.