Kapal Pengangkut Pengungsi Rohingya Terbalik di Laut Andaman, 250 Orang Hilang.(dok, antara)
GoSumatera.com - Sebuah kapal yang mengangkut para pengungsi Rohingya terbalik di Laut Andaman dalam perjalanan menuju Malaysia, menurut badan pengungsi dan migrasi PBB. Sedikitnya 250 orang, termasuk warga negara Bangladesh, dilaporkan hilang.
Juru bicara Penjaga Pantai Bangladesh Letnan Komandan Sabbir Alam Suzan mengatakan kepada AP News pada Rabu (15/4/2026) bahwa sembilan orang, termasuk tiga Rohingya dan enam warga Bangladesh, berhasil diselamatkan pada 9 April.
Suzan mengatakan kapal berbendera Bangladesh, M.T. Meghna Pride, menyelamatkan sembilan orang tersebut setelah awak kapal menemukan mereka terapung di laut isai perahu terbalik.
UNHCR, badan pengungsi PBB, dan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mengatakan dalam pernyataan bersama pada Selasa bahwa kapal tersebut berangkat dari Teknaf di distrik selatan Cox’s Bazar, Bangladesh, dengan membawa sejumlah besar penumpang menuju Malaysia.
Kepadatan penumpang, angin kencang, dan gelombang laut yang ganas menyebabkan kapal kehilangan kendali dan tenggelam, kata kedua lembaga tersebut.
Shari Nijman, petugas komunikasi UNHCR di Cox’s Bazar, mengatakan pada Rabu bahwa belum ada pembaruan lain dari pihaknya.
Seorang pejabat media penjaga pantai lainnya mengatakan kepada AP News melalui telepon pada Rabu bahwa para korban yang diselamatkan, terdiri dari delapan pria dan satu perempuan, dalam kondisi aman setelah diserahkan kepada penjaga pantai, yang kemudian membawa mereka ke polisi di Teknaf.
Pejabat tersebut mengatakan bahwa penyelamatan itu bukan bagian dari operasi pencarian resmi karena lokasi kejadian berada di luar wilayah Bangladesh. Awak kapal M.T. Meghna Pride menyelamatkan para korban saat kapal itu sedang dalam perjalanan menuju Indonesia dari Chittagong, Bangladesh.
UNHCR dan IOM menyatakan bahwa hilangnya para penumpang mencerminkan kondisi pengungsian Rohingya yang berkepanjangan serta ketiadaan solusi jangka panjang.
Mereka mengatakan bahwa kekerasan yang terus berlangsung di negara bagian Rakhine, Myanmar, membuat kepulangan aman Rohingya ke Myanmar menjadi tidak pasti.
Sementara itu, terbatasnya bantuan kemanusiaan, serta akses yang dibatasi terhadap pendidikan dan pekerjaan di kamp pengungsian, terus mendorong pengungsi Rohingya yang rentan untuk memilih perjalanan laut berisiko, sering kali berdasarkan janji palsu tentang upah lebih tinggi dan peluang yang lebih baik di luar negeri.
UNHCR dan IOM mendesak komunitas internasional untuk memperkuat pendanaan dan solidaritas guna memastikan bantuan penyelamatan jiwa bagi para pengungsi Rohingya di Bangladesh, yang telah menampung lebih dari 1 juta pengungsi Rohingya dari Myanmar.(**)
Komentar0