Catat 54 Gempa Susulan, BMKG Cabut Peringatan Tsunami Usai Gempa NTT M 7,7.(dok, ilustrasi freepik)
GoSumatera.com - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisikaa (BMKG) telah mengakhiri peringatan tsunami setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pagi. Hal tersebut dikatakan Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama dalam konferensi pers online.
Meski peringatan tsunami sudah dicabut, BMKG tetap memantau kondisi laut dan aktivitas gempa susulan di sekitar wilayah terdampak. "Pengakhiran telah diterbitkan," ungkap Nelly.
Sementara itu, Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, meminta masyarakat menjauhi kawasan pesisir untuk sementara waktu. "Untuk saat ini tapi tetap untuk masyarakat jangan jangan mendekati pantai," kata Arief saat dihubungi wartawan, Sabtu.
Tsunami Sempat Terdeteksi di Sejumlah Wilayah
Sebelum peringatan dihentikan, perangkat pemantau BMKG mendeteksi perubahan permukaan laut di sejumlah lokasi. Arief menjelaskan tsunami telah terkonfirmasi melalui alat pemantau muka air laut dan tsunami gauge yang berada di beberapa wilayah.
Hasil pengukuran menunjukkan ketinggian tsunami berbeda-beda. Di Bakalang, Alor, tercatat 0,14 meter, Baubau 0,30 meter, Bulukumba 0,54 meter, Dompu 0,17 meter, Flores Timur 0,25 meter, Kolaka 0,23 meter, Labuan Bajo 0,36 meter, Maurole 0,94 meter, Kemah Pantai 0,38 meter, serta Sikka 0,19 meter.
"Jadi, memang secara kasat mata tidak terlalu terlihat ya, kecuali mungkin di Maurole dan Ende, tapi kita masih belum mendapatkan informasi secara visual," ujar Arief.
Menurutnya, data yang diterima BMKG berasal dari hasil pembacaan instrumen di lapangan. Peralatan itu menunjukkan adanya kenaikan permukaan air laut. "Jadi ini hanya deteksi peralatan kami yang ada di sana. Jadi memang ada peningkatan permukaan air laut setinggi tersebut yang tadi saya sebut," katanya.
Peringatan tsunami sebelumnya dikeluarkan setelah gempa utama terjadi. Namun, kondisi terkini membuat peringatan itu telah dihentikan.
Meski status peringatan sudah berakhir, Arief meminta masyarakat tidak langsung mendekati pantai, pesisir, maupun muara sungai.
"Memang tidak tidak tidak berbahaya karena ini kan di bawah setengah meter ya, tetapi tetap saja masyarakat harus menjauhi pesisir dan muara sungai atau tepian sungai," ujarnya.
BMKG Catat 54 Gempa Susulan
Di sisi lain, aktivitas gempa susulan masih tercatat setelah gempa utama M 7,7. Hingga sekitar pukul 07.00 WIB, BMKG mencatat 54 gempa susulan. Satu di antaranya dirasakan masyarakat.
Gempa susulan terbesar yang tercatat memiliki magnitudo 6,2. "Iya, satu yang untuk gempa dan masih susulan ya, gempa susulannya itu satu yang dirasakan. Satu yang dirasakan. Jadi. Sekarang ini sudah 54 gempa susulan," kata Arief.
BMKG terus mengamati perkembangan aktivitas gempa susulan sekaligus kondisi permukaan laut.
Penyebab Gempa Berkaitan dengan Sesar Aktif Arief menjelaskan gempa utama tidak berkaitan dengan megathrust. Sumber gempa berkaitan dengan keberadaan sesar aktif di bagian utara Pulau Flores.
"Jadi memang ada sesar aktif yang di sepanjang utara pulau Flores. Seperti juga pada tahun 92. Jadi ini penyebabnya adalah sesar yang di utara pulau Flores," katanya. Aktivitas sesar di kawasan utara Flores juga pernah menjadi penyebab gempa pada 1992.
Sementara itu, BMKG belum memperoleh data resmi mengenai jumlah korban maupun kerusakan akibat gempa. Arief mengatakan pihaknya baru menerima sejumlah laporan dari masyarakat dan masih mengompilasinya.
"Kalau info resmi dari BPBD, kamu belum menerima ya. Untuk jumlah korban jiwa atau kerusakan juga," kata Arief.
Untuk mengetahui dampak gempa secara resmi, masyarakat diminta menunggu informasi dari BPBD.
"Jadi kami hanya mengkompilasi beberapa laporan yang dari masyarakat ke kami. Tapi untuk informasi terkait dengan dampak, sebaiknya nanti info resmi dari BPBD," pungkasnya.(**)
Komentar0