Rupiah Kian Merosot, Kini Tembus Rp 17.538 per Dolar AS.(dok, fb)
GoSumatera.com - Nilai tukar rupiah masih terus melemah terhadap dolar AS. Berdasarkan laporan Bloomberg pada Rabu pagi (13/5) jam 9.21 WIB, rupiah melemah 9,5 poin atau 0,05 persen ke Rp 17.538 per dolar AS.
Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, mengatakan beberapa faktor penyebab pelemahan rupiah, utamanya diakibatkan aksi jual saham oleh investor asing jelang pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Myrdal menjelaskan, faktor kedua terkait tensi perang antara AS dan Iran di Selat Hormuz yang belum mereda, bahkan terus meningkat yang mengakibatkan penguatan dolar AS. Lalu, para investor asing juga mengantisipasi libur panjang Kenaikan Yesus Kristus pada pekan ini.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, sebelumnya mengatakan tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah yang masih berlangsung.
Menurut Destry, eskalasi konflik tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperbesar kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi global.
“Conflict di Middle East yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat sehingga mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global,” kata Destry, Selasa (12/5).
Di tengah tekanan tersebut, BI memastikan akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah yang ditempuh antara lain melalui intervensi di pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), maupun Non Deliverable Forward (NDF).
Destry menegaskan bank sentral juga akan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter guna meredam gejolak nilai tukar.
“BI akan terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dengan melakukan smart intervention baik di pasar spot, DNDF maupun NDF dan juga mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan pada rupiah,” ungkapnya.
Meski rupiah melemah, BI melihat kepercayaan investor asing terhadap aset keuangan domestik masih cukup baik. Hal itu tercermin dari aliran modal asing yang masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Selama April 2026, aliran modal asing yang masuk ke kedua instrumen tersebut tercatat mencapai Rp 61,6 triliun.
Selain itu, BI juga memastikan likuiditas valuta asing di pasar domestik masih memadai. Hal itu tercermin dari pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) valas yang mencapai 10,9 persen secara year to date (ytd) pada akhir Maret 2026.
Ke depan, BI memperkirakan tekanan terhadap rupiah yang bersifat musiman akan mulai mereda sehingga nilai tukar dapat kembali bergerak sesuai fundamental ekonomi domestik.
“BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya,” pungkasnya.(**)
Komentar0