TUCoGUAlTSz7GSroTUrlBSAlGA==

Jika Negosiasi Buntu, Iran Siap Lanjutkan Perang

Jika Negosiasi Buntu, Iran Siap Lanjutkan Perang.(dok, newyorktimes)

GoSumatera.com - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa negaranya siap siaga untuk melanjutkan aksi militer secara langsung dengan Amerika Serikat (AS) jika proses negosiasi damai tak kunjung membuahkan hasil.

Pesan yang disampaikan oleh Araghchi tersebut tak hanya tertuju kepada Presiden AS Donald Trump beserta jajaran dan negara kroni yang selama ini tunduk mengikutinya. Araghchi menegaskan bahwa pesan tersebut disampaikan kepada masyarakat internasional bahwa perang antara AS-Iran telah berdampak negatif terhadap kehidupan domestik atau rumah tangga masyarakat.

Menurut Araghchi, seperti dikutip dari Al Jazeera, konflik Iran-AS pada akhirnya berdampak pada beban ekonomi warga AS akibat lonjakan biaya hidup serta inflasi yang terus bergulir tanpa henti.

Araghchi juga menekankan bahwa perang tidak hanya melumpuhkan wilayah Timur Tengah, tetapi juga membebani warga Amerika melalui lonjakan biaya energi dan inflasi.

Salah satu penyebab kenaikan biaya rumah tangga di AS dimulai sejak 28 Februari, yang mengakibatkan penutupan efektif Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilewati oleh sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas dunia. Dalam unggahan X, Araghchi juga menyebut bahwa pasar otomotif AS mengalami lonjakan tertinggi dalam kurun waktu 30 tahun.

“Rakyat Amerika diberitahu bahwa mereka harus menanggung lonjakan biaya akibat 'perang pilihan' terhadap Iran,” tulis Araghchi melalui platform X sembari menyematkan gambar grafik kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS.

Araghchi juga menegaskan bahwa selama kesepakatan damai Iran-AS tak segera diteken dan perang dilanjutkan, niscaya ancaman perang akan tetap berlanjut. Dia menduga bahwa AS terancam resesi akibat himpitan ekonomi yang menjebak negara tersebut untuk masuk dalam jeratan pinjaman dengan bunga tinggi.

Selain Araghchi, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf menyoroti biaya finansial perang bagi warga Amerika, meskipun dengan nada yang lebih mengejek. Diketahui bahwa Bagher adala tim perwakilan Iran saat perundingan damai dengan AS di Pakistan beberapa waktu lalu.

“Jadi, Anda mendanai [Pete] Hegseth, pembawa acara TV yang gagal itu, dengan suku bunga yang tidak pernah terdengar sejak 2007, agar dia bisa bermain peran sebagai Menteri Perang di halaman belakang kami di Hormuz?” kata Bagher.

Pernyataan keras tersebut menyusul langkah pemerintah AS yang melelang obligasi bertenor 30 tahun senilai 25 miliar dolar AS dengan tingkat imbal hasil mencapai lima persen pada hari Rabu, rekor imbal hasil belum pernah terjadi dalam hampir dua dekade.

Akibatnya, imbal hasil obligasi 10-year Treasury melonjak ke level tertinggi dalam setahun terakhir karena para pelaku pasar mengantisipasi potensi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve guna meredam inflasi energi global akibat blokade Selat Hormuz.

Krisis Finansial dan Propaganda Militer di Internal Iran

Meski menyerang ekonomi AS, dampak finansial yang dirasakan masyarakat Iran justru jauh lebih meremukkan. Data resmi menunjukkan inflasi sektor pangan menyentuh angka 115 persen pada bulan pertama kalender Persia yang berakhir akhir April lalu.

Harga kebutuhan pokok seperti minyak goreng, beras, dan daging ayam melonjak hingga tiga kali lipat dalam setahun terakhir.

Kondisi ekonomi Iran yang memburuk terlihat dari nilai tukar rial yang terpuruk di angka 1,8 juta per dolar AS di pasar gelap Teheran pada hari Sabtu, mendekati rekor terendah sepanjang sejarah. 

Pihak Iran menyebut krisis kepercayaan terhadap AS menjadi tembok penghalang utama dalam mencapai hasil nyata, seperti yang terjadi bulan lalu saat perundingan di Islamabad gagal menghentikan perang.

Namun, di tengah kunjungan Donald Trump ke Tiongkok untuk menemui Presiden Xi Jinping, Menlu Araghchi menyatakan saat pertemuan BRICS di New Delhi bahwa Teheran membuka diri terhadap upaya mediasi dari Beijing.

Sementara gencatan senjata yang rapuh masih bertahan, otoritas Iran memobilisasi para pendukungnya untuk turun ke jalan setiap malam demi mengamankan "kemenangan" melawan AS.

Laporan Intelejen AS Sebut Militer Iran Masih Kuat

Laporan intelijen terbaru Amerika Serikat menunjukkan bahwa kekuatan militer Iran ternyata masih jauh dari kata hancur, berbeda dengan klaim pemerintahan Donald Trump yang sebelumnya menyebut kemampuan militer Teheran telah “dilumpuhkan”. 

Penilaian tersebut mengungkap bahwa Iran mampu memulihkan sebagian besar infrastruktur strategisnya hanya dalam waktu relatif singkat setelah serangan dan tekanan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Menurut para pejabat intelijen AS, Iran kini telah kembali mendapatkan akses operasional ke mayoritas fasilitas rudal dan pangkalan bawah tanahnya. Dari 33 situs rudal yang berada di sepanjang Selat Hormuz, sebanyak 30 di antaranya disebut sudah kembali dapat digunakan seperti dikutip dari newyork times. 

Fakta ini menjadi perhatian serius bagi Washington karena Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia sekaligus titik strategis pergerakan armada militer Amerika Serikat di Timur Tengah.

Tak hanya itu, Iran juga diperkirakan masih mempertahankan sekitar 70 persen stok rudal serta peluncur bergeraknya. 

Persenjataan tersebut mencakup rudal balistik untuk target jarak jauh maupun rudal jelajah yang dapat digunakan terhadap sasaran di laut dan darat. Dengan masih besarnya persediaan tersebut, Iran dinilai tetap memiliki kemampuan tempur yang signifikan.

Laporan intelijen juga menyebut pemulihan Iran berlangsung lebih cepat dari perkiraan. Melalui penggunaan peluncur bergerak, fasilitas bawah tanah, dan jaringan penyimpanan rudal yang luas, Teheran disebut masih mampu menjaga ancaman militernya tetap aktif. 

Kondisi ini membuat Iran tetap menjadi ancaman potensial bagi kapal perang Amerika dan lalu lintas tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.(**)

Komentar0

Type above and press Enter to search.