Hari Ini, Nilai Tukar Rupiah Dibuka Melemah ke Level Rp17.133 per Dolar AS.(dok, AI)
GoSumatera.com - Nilai tukar rupiah dibuka melemah ke level Rp17.133 per dolar AS pada perdagangan Jumat (17/4/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah turun 30 poin atau 0,17 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terpantau bervariasi. Yen Jepang (JPY) melemah 0,14 persen dan dolar Hong Kong (HKD) turun 0,02 persen. Sementara itu, dolar Singapura (SGD) menguat tipis 0,02 persen.
Tekanan juga terlihat pada dolar Taiwan (TWD) yang melemah 0,05 persen. Sebaliknya, won Korea (KRW) menguat 0,06 persen.
Mata uang Asia lainnya bergerak campuran. Peso Filipina (PHP) melemah 0,15 persen, sedangkan rupee India (INR) menguat 0,19 persen. Yuan China (CNY) terkoreksi 0,02 persen, diikuti ringgit Malaysia (MYR) yang melemah 0,08 persen dan baht Thailand (THB) turun 0,09 persen.
Dari Eropa, pergerakan mata uang terhadap dolar AS juga cenderung beragam. Euro (EUR) menguat 0,05 persen dan pound sterling (GBP) naik 0,07 persen. Sementara itu, franc Swiss (CHF) stagnan.
Krona Swedia (SEK) dan krona Denmark (DKK) masing-masing melemah 0,02 persen dan 0,05 persen.
Pada perdagangan kemarin, pergerakan nilai tukar sempat menguat. Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan penguatan kurs rupiah dipengaruhi optimisme terhadap ketegangan geopolitik yang mereda jelang negosiasi putaran kedua antara AS dengan Iran.
“Dari sisi global, pergerakan rupiah dipengaruhi oleh pelemahan dolar AS seiring meningkatnya optimisme terhadap meredanya ketegangan geopolitik serta ekspektasi kebijakan yang lebih akomodatif dari Federal Reserve,” ucapnya seperti dikutip Antara.
Kendati terdapat dorongan penguatan dari membaiknya sentimen global, ruang apresiasi rupiah dinilai masih relatif terbatas karena tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda.
Seiring potensi gencatan senjata, Sputnik melaporkan bahwa Angkatan Laut AS mulai memblokade seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran sejak 13 April di kedua sisi Selat Hormuz, yang mencakup sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, produk petroleum dan LNG.
Washington menyatakan bahwa kapal non-Iran tetap bebas melintasi Selat Hormuz selama tidak membayar pungutan kepada Teheran. Otoritas Iran belum mengumumkan penerapan pungutan di selat, tetapi telah membahas rencana tersebut.(**)
Komentar0