Iran Siapkan Kuburan Massal untuk Tentara AS yang Menginvasi ke Taheran.(dok, AI)
GoSumatera.com - Yurisdiksi pemakaman terbesar di Teheran, Behesht-e Zahra, mengonfirmasi telah menyiapkan sekitar 5.000 liang lahat yang disebut diperuntukkan bagi tentara Amerika Serikat dan sekutunya jika terjadi invasi darat ke wilayah Iran.
Informasi ini ramai diberitakan melalui sosial, Jum'at (27/3/2026), dan dibanjiri ratusan ribu tanggapan dan komentar dari para netizen.
Langkah ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, menyusul laporan pengerahan armada tempur Amerika Serikat di Teluk Persia dan serangkaian serangan udara yang menghantam fasilitas strategis Iran dalam beberapa pekan terakhir.
CEO Behesht-e Zahra, Muhammad Javad Tajik, menyatakan ribuan liang lahat tersebut telah digali di area khusus di luar batas Kota Teheran. Lokasi itu dipilih agar jenazah pasukan penyerang tidak dimakamkan di kawasan permukiman warga sipil.
Muhammad Javad Tajik mengatakan pihaknya melakukan manajemen krisis dan telah menyiapkan tempat peristirahatan terakhir bagi agresor asing jika mereka berani menginjakkan kaki di tanah Iran.
Pernyataan tersebut mempertegas sikap keras sejumlah pejabat Iran dalam merespons potensi operasi darat oleh Amerika Serikat dan sekutunya, termasuk Israel.
Wakil Ketua Dewan Kota Teheran, Parviz Sarvari, menyebut 5.000 liang lahat itu hanya permulaan. Ia memperingatkan bahwa jika Washington dan Tel Aviv melakukan kesalahan strategis dengan melancarkan serangan darat, maka seluruh wilayah Iran akan menjadi kuburan bagi tentara mereka dan tidak satu pun penyerang akan pulang dengan selamat.
Sementara itu, Laksamana Muda Alireza Tangsiri yang merupakan pejabat di Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan pulau-pulau strategis Iran di Teluk Persia telah diperkuat. Ia menegaskan wilayah tersebut siap menjadi titik mematikan bagi kapal perang dan pasukan komando lawan.
Retorika yang berkembang menunjukkan eskalasi perang pernyataan di tengah situasi keamanan kawasan yang semakin mencekam.
𝗜𝗿𝗮𝗻 𝗦𝗶𝗮𝗽𝗸𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗗𝗮𝗿𝗮𝘁: "𝗦𝗲𝘁𝗶𝗮𝗽 𝗝𝗲𝗻𝗴𝗸𝗮𝗹 𝗧𝗮𝗻𝗮𝗵 𝗞𝗮𝗺𝗶 𝗔𝗸𝗮𝗻 𝗝𝗮𝗱𝗶 𝗞𝘂𝗯𝘂𝗿𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮 𝗔𝗦!"
Ancaman perang darat semakin nyata di tengah konflik yang telah berlangsung hampir sebulan antara Amerika Serikat dan Iran. Iran secara terbuka mengeluarkan peringatan keras dan menyatakan telah bersiap menghadapi kemungkinan serangan darat dari Washington.
Penasihat utama Pemimpin Tertinggi Iran, 𝗔𝗹𝗶 𝗔𝗸𝗯𝗮𝗿 𝗔𝗵𝗺𝗮𝗱𝗶𝗮𝗻 sebelumnya juga menegaskan bahwa pasukannya siap menghadapi ribuan pasukan elit Amerika Serikat, baik Marinir maupun divisi lintas udara.
Dalam pernyataannya yang mengejutkan, Ahmadian mengungkapkan bahwa 𝗔𝗻𝗴𝗸𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗕𝗲𝗿𝘀𝗲𝗻𝗷𝗮𝘁𝗮 𝗜𝗿𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗽𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗽𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗶𝗿𝗶 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮 𝗱𝘂𝗮 𝗱𝗲𝗸𝗮𝗱𝗲 untuk momen konfrontasi langsung dengan militer Amerika Serikat di darat seperti saat ini.
Melalui pesan singkat namun mengerikan di platform X, Ahmadian menuliskan satu pesan untuk tentara Amerika: "𝗗𝗮𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗱𝗲𝗸𝗮𝘁." Sebuah tantangan yang jelas bahwa Iran tidak gentar dengan ancaman invasi darat.
𝗦𝘁𝗿𝗮𝘁𝗲𝗴𝗶 𝗣𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗔𝘀𝗶𝗺𝗲𝘁𝗿𝗶𝘀 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘁𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮 𝟮𝟬 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻
Iran diketahui telah melatih pasukannya dalam 𝘀𝘁𝗿𝗮𝘁𝗲𝗴𝗶 𝗽𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗮𝘀𝗶𝗺𝗲𝘁𝗿𝗶𝘀 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝟮𝟬 𝘁𝗮𝗵𝘂𝗻. Strategi ini dirancang khusus untuk menghadapi kekuatan militer besar seperti Amerika Serikat di wilayah-wilayah yang telah ditentukan.
Dengan menggunakan medan yang sulit, taktik gerilya, dan sistem pertahanan berlapis, Iran telah mempersiapkan diri untuk membuat setiap serangan darat menjadi mimpi buruk bagi penyerang. Pelatihan intensif di daerah pegunungan, gurun, dan wilayah perkotaan telah dilakukan selama bertahun-tahun untuk mengantisipasi skenario invasi.
Menurut laporan dari berbagai sumber intelijen, Iran telah membangun jaringan terowongan bawah tanah yang luas, menyembunyikan rudal dan drone di fasilitas bawah tanah, serta mempersiapkan unit-unit tempur yang siap melakukan serangan kejutan di belakang garis musuh.
𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗴𝗼𝗻 𝗦𝗶𝗮𝗽𝗸𝗮𝗻 𝗣𝗮𝘀𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗘𝗹𝗶𝘁
Peringatan ini muncul setelah adanya laporan bahwa pasukan militer Amerika Serikat telah membuka opsi serangan darat melawan Iran. Langkah ini dilaporkan sebagai 𝗼𝗽𝘀𝗶 𝘁𝗲𝗿𝗮𝗸𝗵𝗶𝗿 jika pengeboman udara Amerika Serikat tak mencapai target yang diinginkan Washington.
Ribuan tentara Amerika Serikat dilaporkan telah disiapkan dalam misi ini. Pentagon disebut tengah bersiap mengerahkan setidaknya 𝟭.𝟬𝟬𝟬 𝗽𝗮𝘀𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗲𝗹𝗶𝘁 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗗𝗶𝘃𝗶𝘀𝗶 𝗟𝗶𝗻𝘁𝗮𝘀 𝗨𝗱𝗮𝗿𝗮 𝗸𝗲-𝟴𝟮 ke Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan. Divisi ini dikenal sebagai pasukan reaksi cepat yang mampu dikerahkan dalam waktu singkat ke zona konflik.
Selain itu, sebelumnya telah dilaporkan bahwa dua unit Marinir dengan total sekitar 𝟱.𝟬𝟬𝟬 𝗽𝗲𝗿𝘀𝗼𝗻𝗲𝗹 juga sedang dalam proses dikerahkan ke kawasan, menambah kekuatan tempur AS di Timur Tengah yang saat ini telah mencapai sekitar 50.000 tentara.
𝗔𝗻𝗰𝗮𝗺𝗮𝗻 𝗕𝗮𝗹𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗜𝗿𝗮𝗻: "𝗧𝗮𝗻𝗮𝗵 𝗞𝗮𝗺𝗶 𝗔𝗸𝗮𝗻 𝗝𝗮𝗱𝗶 𝗞𝘂𝗯𝘂𝗿𝗮𝗻"
Teheran dengan tegas membalas bahwa 𝘀𝗲𝘁𝗶𝗮𝗽 𝗷𝗲𝗻𝗴𝗸𝗮𝗹 𝘁𝗮𝗻𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝘂𝗯𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗸𝘂𝗯𝘂𝗿𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗴𝗶 𝘁𝗲𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮 𝗮𝘀𝗶𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗻𝗶 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗶𝗻𝗷𝗮𝗸𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗮𝗸𝗶. Peringatan ini bukan sekadar retorika kosong.
Dalam beberapa pekan terakhir, Iran telah menunjukkan kemampuannya meluncurkan puluhan gelombang serangan rudal dan drone ke target-target strategis di Israel dan pangkalan AS di kawasan Teluk. Dengan perang darat, Iran akan memiliki keuntungan bermain di wilayah sendiri, menggunakan medan yang sudah dipelajari selama puluhan tahun.
Seorang komandan IRGC, Ahmed, menyatakan bahwa Iran telah memetakan setiap kemungkinan rute invasi AS dan telah menyiapkan perangkap di setiap jalur tersebut.
"Mereka akan menemukan bahwa setiap langkah di tanah Iran adalah langkah menuju kematian," ujarnya.
𝗞𝗼𝗻𝘁𝗲𝗸𝘀: 𝗘𝘀𝗸𝗮𝗹𝗮𝘀𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗧𝗲𝗿𝘂𝘀 𝗠𝗲𝗻𝗶𝗻𝗴𝗸𝗮𝘁
Konflik antara AS dan Iran dimulai pada 28 Februari 2026 dengan serangan gabungan AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatullah Ali Khamenei. Sejak itu, Iran telah melancarkan lebih dari 70 gelombang serangan balasan menggunakan rudal dan drone ke Israel dan pangkalan AS di kawasan.
Sementara itu, AS telah memperkuat kehadiran militernya dengan dua kapal induk di kawasan, puluhan jet tempur, dan sistem pertahanan rudal canggih. Namun, hingga kini, AS belum pernah melakukan serangan darat ke Iran sejak konflik dimulai.
Jika opsi darat benar-benar diambil, ini akan menjadi eskalasi besar yang bisa mengubah seluruh dinamika konflik. Pertanyaannya, apakah AS benar-benar siap untuk perang darat yang diprediksi akan jauh lebih berdarah daripada perang udara?
"𝗦𝗲𝘁𝗶𝗮𝗽 𝗷𝗲𝗻𝗴𝗸𝗮𝗹 𝘁𝗮𝗻𝗮𝗵 𝗜𝗿𝗮𝗻 𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗸𝘂𝗯𝘂𝗿𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗴𝗶 𝘁𝗲𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮 𝗮𝘀𝗶𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗻𝗶 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗶𝗻𝗷𝗮𝗸𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗮𝗸𝗶." Peringatan ini mungkin akan menjadi kenyataan yang sangat mahal bagi kedua belah pihak.(**)
Komentar0