Rupiah Dibuka Melemah ke Rp18.149 per Dolar AS, Ini Faktor Pemicunya.(dok, istimewa)
GoSumatera.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah tipis pada pembukaan perdagangan Senin (2/11/2026).
Pelaku pasar masih mencermati rilis sejumlah data ekonomi domestik, termasuk inflasi dan neraca perdagangan, yang diperkirakan memengaruhi pergerakan mata uang Garuda.
Mengutip Antara, rupiah dibuka melemah dua poin atau 0,01 persen ke level Rp18.149 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya pada Rp18.147 per dolar AS.
Analis Doo Financial, Lukman Leong, memperkirakan rupiah bergerak relatif stabil pada awal perdagangan. Namun, arah pergerakannya akan dipengaruhi oleh hasil rilis data ekonomi Indonesia pada siang hari.
"Rupiah diperkirakan dibuka datar, dengan investor menantikan serentetan data ekonomi domestik siang ini, di antaranya inflasi dan perdagangan," ujar Lukman.
Inflasi Indonesia diperkirakan sedikit meningkat dari 3,28 persen menjadi 3,3 persen. Sementara itu, neraca perdagangan diproyeksikan mencatat surplus sebesar 1,9 miliar dolar AS.
Selain faktor domestik, pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global, terutama perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran.
Harga minyak dunia dilaporkan mengalami penurunan seiring munculnya harapan terhadap kemungkinan perundingan damai untuk mengakhiri konflik kedua negara tersebut.
Namun, peluang tercapainya kesepakatan masih menghadapi tantangan. Mengutip Sputnik, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, pada Sabtu (31/10/2026) menyatakan bahwa Iran hanya akan menggelar perundingan apabila Washington menerima tujuh syarat yang diajukan Teheran.
Persyaratan tersebut disebut berbeda dari ketentuan dalam nota kesepahaman Islamabad.
Rezaei juga menegaskan bahwa Iran harus memberikan konsekuensi terhadap tindakan Amerika Serikat.
Menurutnya, kegagalan memberikan respons dapat mendorong negara lain menganggap bahwa serangan militer serupa terhadap Iran dapat dilakukan tanpa konsekuensi berarti.
Di tengah perkembangan geopolitik tersebut, sentimen pasar keuangan domestik masih menghadapi tekanan. Aksi jual investor asing di pasar saham Indonesia menjadi salah satu faktor yang turut membebani pergerakan rupiah.
Lukman menyebutkan, investor asing mencatatkan penjualan bersih atau net sell sekitar Rp3 triliun di seluruh pasar saham Indonesia sepanjang pekan sebelumnya.
Sementara itu, sejumlah mata uang Asia juga terpantau melemah pada awal perdagangan Senin.
Berdasarkan berbagai faktor tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp18.100 hingga Rp18.200 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.
Rupiah Diproyeksikan Bergerak di Kisaran Rp18.000-Rp18.320
Sebelumnya, Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Indonesia, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp18.000 hingga Rp18.320 per dolar AS pada perdagangan pekan ini.
"Rupiah diprediksi dalam perdagangan minggu depan direntang Rp18.000-Rp18.320," kata Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (1/11/2026).
Pada penutupan perdagangan Jumat (30/10/2026), rupiah melemah 10 poin ke level Rp18.147 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp18.137 per dolar AS.
Sebelum ditutup melemah, rupiah sempat menguat 35 poin. Namun, penguatan tersebut tidak mampu bertahan hingga akhir perdagangan.
Proyeksi pergerakan rupiah pada rentang Rp18.000-Rp18.320 per dolar AS menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang domestik masih berpotensi berlanjut pada awal pekan.
Ketegangan AS-Iran Menambah Tekanan terhadap Rupiah
Pelemahan rupiah pada akhir pekan lalu juga dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik setelah muncul laporan mengenai opsi militer Amerika Serikat terhadap Iran.
Mengutip laporan The Wall Street Journal, Kepala Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper, dilaporkan memberikan penjelasan kepada Presiden AS Donald Trump mengenai sejumlah opsi militer terhadap Iran dalam pertemuan di Gedung Putih pada Kamis.
Pertemuan tersebut juga dihadiri Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan sejumlah pejabat senior lainnya.
Menurut laporan itu, pembahasan mencakup blokade yang masih diberlakukan Amerika Serikat serta kemungkinan dimulainya kembali operasi tempur berskala besar.
Trump juga dilaporkan mengisyaratkan kemungkinan serangan baru setelah pemilihan paruh waktu Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung pada 3 November 2026.
Ketidakpastian geopolitik tersebut berpotensi memengaruhi sentimen investor global. Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar cenderung mencermati perkembangan konflik internasional, pergerakan harga komoditas, serta arah kebijakan ekonomi negara-negara utama sebelum menentukan strategi investasi.
Bagi rupiah, perkembangan data ekonomi domestik dan dinamika pasar global akan menjadi faktor penting yang menentukan arah pergerakan nilai tukar dalam beberapa hari ke depan.
Pelaku pasar pun akan menantikan rilis data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia sebagai indikator untuk menilai kondisi fundamental ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal yang masih membayangi pasar keuangan.
(**)
Komentar0