Musim Hujan Bukan Jaminan Aman, BNPB Catat 742 Hektare Lahan Masih Terbakar.(dok, istimewa)
GoSumatera.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 742 hektare lahan masih terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia hingga Senin (2/11/2026).
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan kebakaran tersebut tersebar di sejumlah provinsi. Kalimantan Tengah dan Papua Selatan menjadi dua wilayah dengan luasan lahan terbakar terbesar.
"Secara nasional kami bisa menyampaikan ada 742 hektare lahan terbakar," kata Berton, seperti dikutip Selasa (3/11/2026).
Berdasarkan data BNPB, Kalimantan Tengah mencatat luas lahan terbakar mencapai 351 hektare. Meski menjadi wilayah dengan kebakaran terluas, angka tersebut mengalami penurunan 42 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Selanjutnya, Papua Selatan mencatat 253 hektare lahan terbakar atau turun 56 persen. Sulawesi Tenggara mencapai 95 hektare atau mengalami penurunan 63 persen.
Sementara itu, Nusa Tenggara Timur mencatat 16 hektare lahan terbakar atau turun 36 persen. Adapun Bangka Belitung mencatat delapan hektare dan Kalimantan Barat 19 hektare.
Berton mengungkapkan, munculnya kebakaran di Bangka Belitung dan Kalimantan Barat menjadi perhatian karena kedua wilayah tersebut sebelumnya tidak dilaporkan memiliki titik api.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa potensi kebakaran hutan dan lahan masih tetap ada meskipun sejumlah wilayah telah memasuki musim hujan.
"Artinya untuk Kalimantan maupun tempat lain, walaupun musim hujan, masih berpotensi terjadi titik-titik api baru mengingat api atau bara api yang ada di bawah permukaan masih belum 100 persen padam akibat hujan yang sudah terjadi akhir-akhir ini," tuturnya.
BNPB pun mengingatkan agar seluruh pihak tidak lengah terhadap potensi karhutla. Bara api yang masih tersimpan di bawah permukaan tanah dapat kembali memicu kebakaran apabila kondisi lingkungan mendukung.
"Tentu kami tetap mengimbau dan akan melakukan upaya-upaya sehingga titik-titik api akan padam sehingga tidak menjadi masalah di kemudian hari setelah membesar," sambungnya.
Untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran, BNPB masih menyiagakan puluhan armada udara guna mendukung patroli, operasi modifikasi cuaca, serta pemadaman melalui metode pengeboman air atau water bombing.
Berton menyebutkan, sebanyak 54 armada udara disiagakan untuk mendukung penanganan karhutla. Dari jumlah tersebut, 22 armada digunakan untuk patroli dan operasi modifikasi cuaca, sedangkan 30 helikopter disiapkan untuk operasi pemadaman melalui water bombing.
Armada udara tersebut disiagakan di sejumlah wilayah, antara lain Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Jambi, dan Riau.
"Kita lihat ada di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Jambi dan Riau tetap ada standby atau dalam keadaan siap siaga ketika nanti pesawat ini dibutuhkan untuk keperluan yang ketika ada titik api ataupun memang diperlukan untuk melakukan modifikasi cuaca," ucapnya.
Selain itu, dukungan armada udara juga disiapkan untuk mengantisipasi kebutuhan penanganan karhutla di Jawa Timur, Kalimantan Timur, Papua Selatan, dan Papua Barat Daya.
BNPB menegaskan upaya pemantauan dan kesiapsiagaan akan terus dilakukan, terutama di wilayah yang masih memiliki potensi kemunculan titik api baru.
Langkah tersebut diperlukan agar sisa bara api yang belum sepenuhnya padam tidak kembali menyala dan berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar, meskipun hujan mulai mengguyur sejumlah daerah di Indonesia.(**)
Komentar0