Yield Obligasi AS Naik, Rupiah Diprediksi Tertekan di Level Rp17.900.(dok, ilustrasi)
GoSumatera.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan kembali mengalami tekanan pada perdagangan Selasa (6/10/2026). Pelemahan rupiah dipengaruhi kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS serta penguatan indeks dolar AS di pasar global.
Analis Bank Woori Saudara (BWS), Rully Nova, memperkirakan pergerakan rupiah berada di kisaran Rp17.900 hingga Rp17.960 per dolar AS.
Menurutnya, meski terdapat sentimen positif dari penurunan harga minyak dunia, tekanan dari pasar keuangan global, khususnya kenaikan yield obligasi AS, masih menjadi faktor dominan yang membebani rupiah.
"Rupiah hari ini diperkirakan kembali melemah dipengaruhi oleh kenaikan yield obligasi pemerintah AS dan indeks dolar, walaupun harga minyak relatif turun dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed bulan ini memudar," ujar Rully di Jakarta, Selasa.
Yield Obligasi AS dan Indeks Dolar Menguat
Berdasarkan data pasar, yield obligasi pemerintah AS tercatat naik menjadi 5,31 persen. Sementara itu, indeks dolar AS menguat ke level 102,12.
Penguatan dolar AS terjadi di tengah data ketenagakerjaan AS yang cenderung lemah. Kondisi tersebut sebenarnya turut meredam ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.
Survei pasar menunjukkan probabilitas sekitar 80 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Oktober 2026.
Namun, untuk pertemuan FOMC Desember 2026, peluang kenaikan suku bunga kembali meningkat, dengan probabilitas mencapai 69 persen.
Lelang Obligasi Pemerintah Jadi Perhatian
Dari dalam negeri, pelaku pasar turut mencermati lelang surat utang pemerintah Indonesia yang berlangsung pada Selasa (6/10/2026).
Rully menilai lelang obligasi pemerintah masih menghadapi tantangan akibat tingginya yield obligasi AS. Meski demikian, instrumen surat utang domestik dinilai masih menawarkan imbal hasil yang menarik bagi investor.
"Lelang obligasi hari ini masih menawarkan bunga yang menarik, di mana spread selisih bunga dengan obligasi pemerintah AS masih cukup lebar. Namun, risiko terpantau meningkat yang tercermin dari Credit Default Swap (CDS) 5 tahun di level 95,69," katanya.
Rupiah Sempat Menguat Tipis
Pada pembukaan perdagangan Selasa pagi, rupiah sempat menguat tipis 6 poin atau 0,03 persen ke level Rp17.911 per dolar AS.
Posisi tersebut menguat dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.917 per dolar AS.
Namun, penguatan tersebut diperkirakan masih rentan berbalik arah seiring kuatnya sentimen eksternal, terutama pergerakan yield obligasi AS dan indeks dolar sepanjang perdagangan.
Pergerakan rupiah selanjutnya akan sangat dipengaruhi perkembangan pasar keuangan global, khususnya arah kebijakan moneter The Fed serta dinamika pasar obligasi AS.(**)
Komentar0