![]() |
| Dr. (HC) H. Asrat Chan, Lc., M.Pd., Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lima Puluh Kota terpilih periode 2026-2031(duduk paling depan dengan tangan di dada). |
PAYAKUMBUH, GoSumatera.com, – Dr. (HC) H. Asrat Chan, Lc., M.Pd., kembali mendapat kepercayaan penuh untuk menakhodai Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lima Puluh Kota. Ia secara aklamasi ditetapkan sebagai Ketua Umum MUI Kabupaten Lima Puluh Kota masa khidmat 2026–2031 dalam perhelatan Musyawarah Daerah (Musda) VI yang digelar di Hotel Mangkuto Syariah, Payakumbuh, Sabtu (31/10/2026).
Penetapan Buya Asrat Chan—sapaan akrabnya—merupakan hasil kesepakatan mufakat dari 13 anggota tim formatur yang mewakili unsur Dewan Pertimbangan, pengurus demisioner, MUI tingkat kecamatan, ormas Islam, hingga pondok pesantren. Sidang Pleno IV yang dipimpin oleh Steering Committee Dr. H. Ifkar, M.Ag., mengesahkan susunan kepengurusan baru ini dengan khidmat dan lancar.
Dalam menakhodai organisasi para ulama ini, Buya Asrat Chan akan didampingi oleh Sekretaris Umum Hendra Bakti, S.Ag dan Bendahara Umum H. Nur Akhmal,SH.I, serta dibantu oleh 12 Ketua Bidang yang membawahi berbagai komisi strategis. Sementara itu, posisi Ketua Dewan Pertimbangan dipercayakan kepada Buya H. Isma'il Khalid.
![]() |
| Dr. (HC) H. Asrat Chan, Lc., M.Pd., |
Dalam momentum penuh kebersamaan tersebut, Buya Asrat Chan menyampaikan rasa syukur sekaligus menyadari beratnya amanah yang kembali dipikulkan di pundaknya. Ia menegaskan bahwa MUI ke depan harus lebih proaktif dan responsif terhadap dinamika serta tantangan umat.
"Amanah ini sejatinya adalah tugas berat yang harus kita pikul bersama-sama. Ke depan, tantangan umat semakin kompleks."
Sesuai dengan hasil rumusan musyawarah hari ini, "MUI Lima Puluh Kota akan memfokuskan dakwah pada penyelesaian persoalan kekinian, seperti membentengi generasi muda dari bahaya narkoba, penyimpangan moral, hingga pencegahan paham yang merusak tatanan sosial," ungkap Buya Doni Rahmat.
Sementara itu buya Dr. H. Arman Husni, Lc, MA menekankan pentingnya sinergi yang kokoh antara ulama dan pemangku adat (Ninik Mamak) di tingkat nagari. Menurutnya, falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) harus diimplementasikan secara nyata di tengah masyarakat.
"Ulama dan tokoh adat tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Kita akan turun ke nagari-nagari, menyamakan persepsi dan metodologi dakwah agar umat tidak terpecah-belah oleh khilafiyah. MUI hadir untuk menyatukan dan menyejukkan," tambah salah seorang Buya Pimpinan Pondok Pesantren.
Terpilihnya kembali Buya Asrat Chan juga mendapat apresiasi dari Dewan Pimpinan MUI Provinsi Sumatera Barat. Buya Drs. H. Nurman Agus, yang hadir menutup rangkaian Musda, berpesan agar jajaran pengurus MUI Lima Puluh Kota yang baru dapat menjelma sebagai "Ulama Matahari".
"Jadilah ulama matahari; ulama yang tidak hanya berilmu, tetapi juga mengamalkan ilmunya untuk menerangi kehidupan umat, menyatukan yang terserak, dan benar-benar menjadi rahmatan lil 'alamin di Kabupaten Lima Puluh Kota," pesan Buya Norman mengakhiri arahannya. (GS/F. Malin Parmato)

.jpg)
Komentar0