TUCoGUAlTSz7GSroTUrlBSAlGA==

Houthi Klaim Serang Fasilitas Aramco di Riyadh dengan Rudal Balistik dan Drone

Houthi Klaim Serang Fasilitas Aramco di Riyadh dengan Rudal Balistik dan Drone. (dok, ilustrasi chat gpt)

GoSumatera.com – Pasukan Houthi di Yaman mengklaim telah melancarkan serangan terhadap fasilitas perusahaan minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, di Riyadh, ibu kota Arab Saudi. Serangan tersebut disebut menggunakan sejumlah rudal balistik dan pesawat nirawak (drone).

Juru Bicara Houthi, Yahya Saree, mengatakan operasi militer tersebut merupakan respons atas serangkaian serangan udara yang dilancarkan Arab Saudi terhadap ibu kota Yaman, Sana'a, dan sejumlah wilayah yang dikuasai kelompok Houthi.

Dalam pernyataan yang disampaikan melalui kanal Telegram pada Sabtu (3/10/2026) malam waktu setempat, Saree mengeklaim serangan udara dan rudal terhadap wilayah yang dikuasai Houthi meningkat dalam 24 jam terakhir.

“Merespons agresi Saudi terhadap Ibu Kota Sana'a dan provinsi-provinsi yang telah dibebaskan, yang mana dalam 24 jam terakhir telah mencapai 60 serangan udara dan rudal, sehingga total serangan sejak awal eskalasi terhadap negara kami mencapai 1.410 serangan,” kata Saree, sebagaimana dikutip Al Jazeera.

Ia melanjutkan, angkatan bersenjata Yaman telah melaksanakan operasi militer khusus dengan menggunakan sejumlah rudal balistik dan drone yang menargetkan fasilitas Aramco di Riyadh.

Saree mengklaim serangan tersebut berhasil mengenai sasaran dan memicu kebakaran di lokasi yang ditargetkan. Rekaman video yang beredar juga memperlihatkan kepulan asap tebal membubung di sekitar fasilitas Aramco di Riyadh.

Meski demikian, klaim mengenai keberhasilan serangan dan dampak kerusakan tersebut belum dapat dikonfirmasi secara independen. Hingga berita ini ditulis, otoritas Arab Saudi maupun pihak Aramco belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden tersebut.

Dalam pernyataan yang sama, Saree memperingatkan bahwa serangan tersebut baru merupakan awal dari rangkaian aksi militer yang lebih besar. Houthi menyatakan akan terus menerapkan prinsip “pengepungan dibalas pengepungan, eskalasi dibalas eskalasi” sampai Arab Saudi menghentikan serangan dan mencabut blokade terhadap Yaman.

Koalisi Saudi Klaim Tewaskan 260 Pejuang Houthi

Di tengah meningkatnya ketegangan, koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional mengumumkan telah melancarkan 97 operasi penargetan presisi terhadap konsentrasi pasukan Houthi.

Dikutip dari Al Jazeera, pengumuman tersebut disampaikan pada Minggu (4/10/2026) dini hari. Operasi menyasar sejumlah posisi Houthi di front Tor al-Baha dan jalur Taiz dengan melibatkan pesawat tempur, drone, artileri, rudal, serta penembak jitu.

Juru Bicara Pasukan Pemerintah Yaman, Kolonel Majed Abdullah al-Nazili, menyatakan serangan tersebut menewaskan atau melukai sedikitnya 260 pejuang Houthi. Selain itu, sebanyak 44 kendaraan militer diklaim hancur atau tidak lagi dapat digunakan.

Angka korban dan kerusakan tersebut merupakan klaim dari pihak pemerintah Yaman yang didukung koalisi Saudi dan belum dapat diverifikasi secara independen.

Ketegangan Saudi-Houthi Kembali Meningkat
Serangan yang diklaim terjadi di Riyadh ini bukan kali pertama Houthi menargetkan fasilitas energi Arab Saudi. Pada akhir September, kelompok tersebut juga mengklaim menyerang fasilitas Aramco di Yanbu, kota pelabuhan di pesisir Laut Merah.

Saat itu, Arab Saudi menyatakan berhasil mencegat enam rudal balistik dan menyebut tidak ada kerusakan pada fasilitas Aramco.
Pada awal pekan ini, koalisi Saudi juga menuduh Houthi menyerang gardu listrik di Kota Madinah.

Sementara itu, situasi di medan perang Yaman masih terus berubah. Pada pertengahan September, Houthi dilaporkan sempat merebut kota pelabuhan Mocha serta sejumlah pulau strategis di Selat Bab al-Mandeb. Pasukan anti-Houthi kemudian berupaya menstabilkan kembali garis depan.

Konflik berkepanjangan tersebut telah menyebabkan ratusan ribu warga sipil mengungsi. Yaman sendiri dilanda perang sejak Houthi merebut ibu kota Sana'a pada 2014, yang memaksa pemerintah Yaman mundur ke Aden, kota pelabuhan di pesisir selatan negara itu.

Perang yang berlangsung selama bertahun-tahun telah memicu krisis kemanusiaan berkepanjangan di Yaman. 

Meningkatnya serangan antara Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi kembali menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan kawasan serta stabilitas jalur pelayaran strategis di sekitar Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb.
(**)

Komentar0

Type above and press Enter to search.