TUCoGUAlTSz7GSroTUrlBSAlGA==

Kualitas Udara Palembang Masuk Level Berbahaya, Enam Penerbangan Terganggu

Kualitas Udara Palembang Masuk Level Berbahaya, Enam Penerbangan Terganggu.(dok, M.Aldi)

GoSumatera.com - Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan, kembali memburuk dan masuk level berbahaya pada Jumat (25/9/2026). Kondisi tersebut dipicu meningkatnya konsentrasi partikulat halus (PM2.5) akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Memburuknya kualitas udara juga berdampak terhadap aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang. Sedikitnya enam penerbangan mengalami gangguan akibat jarak pandang yang turun hingga sekitar 700 meter.

Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Satelit Talang Betutu Palembang, konsentrasi PM2.5 mulai memburuk sejak pukul 01.00 WIB.

Pada periode pukul 01.00 hingga 08.00 WIB, konsentrasi PM2.5 berada pada kisaran 114,7-139,8 mikrogram per meter kubik (µg/m³), yang menunjukkan kategori tidak sehat.

Konsentrasi PM2.5 kemudian kembali meningkat pada pukul 09.00 WIB hingga mencapai 151,3 µg/m³ dan masuk kategori sangat tidak sehat.

Kondisi semakin memburuk menjelang tengah hari. Pada pukul 10.00 hingga 11.00 WIB, konsentrasi PM2.5 tercatat mencapai 311,2-323 µg/m³. Berdasarkan indikator pemantauan BMKG, kondisi tersebut telah masuk level berbahaya.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, membenarkan adanya perubahan drastis kualitas udara di Palembang.

Menurutnya, kondisi udara pada Jumat merupakan yang terburuk setelah kualitas udara sempat membaik dalam beberapa hari terakhir menyusul hujan dengan intensitas rendah hingga sedang di sejumlah wilayah Sumatera Selatan.

"Hari ini kualitas udara di Palembang dalam level berbahaya, kembali meningkat dalam beberapa hari ini," ujar Wandayantolis, Jumat (25/9/2026).

Ia menjelaskan, memburuknya kualitas udara di Palembang tidak terlepas dari asap karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah, terutama Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Ilir.

"Masih terjadi kebakaran di sejumlah daerah, asapnya masuk ke Palembang," katanya.

Enam Penerbangan Terdampak

Dampak kabut asap juga dirasakan di Bandara SMB II Palembang. Humas Bandara SMB II Palembang, Nidia Besthonie, mengatakan sejumlah penerbangan terdampak karena jarak pandang berada di bawah batas minimum operasional, yakni sekitar 700 meter.

Tiga penerbangan yang terdampak saat keberangkatan yakni Super Air Jet IU 923 rute Palembang-Jakarta dengan jadwal keberangkatan pukul 10.20 WIB, Garuda Indonesia GA 109 rute Palembang-Jakarta pukul 12.20 WIB, serta Super Air Jet IU 879 rute Palembang-Jakarta pukul 12.30 WIB.

Sementara itu, tiga penerbangan lainnya mengalami gangguan saat kedatangan.
Super Air Jet IU 922 rute Jakarta-Palembang yang dijadwalkan tiba pukul 09.40 WIB mengalami perubahan estimasi kedatangan menjadi pukul 09.57 WIB dan berstatus Return to Base (RTB).

Status RTB berarti pesawat kembali ke bandara asal keberangkatan karena tidak dapat melanjutkan penerbangan atau pendaratan ke bandara tujuan.

Dalam kasus tersebut, Super Air Jet IU 922 kembali ke Jakarta setelah tidak dapat mendarat di Bandara SMB II Palembang akibat jarak pandang berada di bawah batas minimum operasional.

Selain IU 922, penerbangan Garuda Indonesia GA 104 rute Jakarta-Palembang yang dijadwalkan tiba pukul 11.35 WIB juga mengalami keterlambatan pendaratan. Hal serupa terjadi pada Super Air Jet IU 878 rute Jakarta-Palembang yang dijadwalkan tiba pukul 11.50 WIB.

"Ada sejumlah penerbangan dan kedatangan pesawat yang terganggu, satu di antaranya mengalami RTB," kata Nidia.

Nidia menambahkan, operasional Bandara SMB II Palembang saat ini mulai kembali normal seiring jarak pandang yang berangsur membaik.
Meski demikian, kondisi tersebut masih dapat berubah. Jarak pandang berpotensi kembali menurun, terutama pada sore hingga malam hari.

"Jarak pandang sekarang sudah untuk operasional penerbangan," ujarnya.
(**)

Komentar0

Type above and press Enter to search.