TUCoGUAlTSz7GSroTUrlBSAlGA==

Cetak Rekor Terlemah, Rupiah Tembus Rp 17.900 per Dollar AS

Cetak Rekor Terlemah, Rupiah Tembus Rp 17.900 per Dollar AS.(dok, net)

GoSumatera.com - Dalam perdagangan hari ini pelemahan rupiah menembus level Rp 17.900 per dollar AS menunjukkan tingginya tekanan eksternal yang sedang dihadapi perekonomian Indonesia. 

Penguatan dollar AS dipicu meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang mendorong investor mencari aset aman.

Selain itu, ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kebijakan suku bunga AS yang tetap ketat turut memperkuat posisi dollar.

Pelemahan ini terjadi di tengah menguatnya dollar AS yang didorong meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta meningkatnya permintaan investor terhadap aset safe haven.

Berdasarkan data Reuters pada pukul 09.00 WIB, rupiah diperdagangkan di level Rp 17.890 per dollar AS atau melemah 0,34 persen dibandingkan posisi sebelumnya di Rp 17.830 per dollar AS.

Tekanan berlanjut hingga pukul 10.45 WIB ketika rupiah menyentuh level Rp 17.926 per dollar AS.

Kondisi tersebut menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia pada perdagangan hari itu.

Di pasar regional, pergerakan mata uang Asia relatif terbatas.

Yen Jepang menguat tipis 0,04 persen ke level 159,82 per dollar AS dan dollar Singapura naik 0,02 persen.

Sementara itu, won Korea Selatan, baht Thailand, peso Filipina, ringgit Malaysia, dan yuan China mengalami pelemahan terhadap dollar AS.

Secara year to date (YTD), rupiah menjadi salah satu mata uang dengan depresiasi terdalam di Asia.

Sejak awal 2026, rupiah telah melemah sekitar 6,82 persen dibandingkan posisi akhir 2025 yang berada di level Rp16.670 per dollar AS.

Pelemahan tersebut lebih dalam dibandingkan won Korea Selatan yang turun 5,23 persen, rupee India 5,66 persen, peso Filipina 4,66 persen, dan baht Thailand 3,70 persen.

Sebaliknya, beberapa mata uang justru mencatat penguatan terhadap dollar AS sepanjang tahun ini. Yuan China menguat sekitar 3,27 persen, ringgit Malaysia naik 2,09 persen, dan dollar Singapura menguat 0,51 persen.

Penguatan dollar AS dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik di Timur Tengah.

Meskipun Lebanon mengumumkan gencatan senjata parsial antara Hizbullah dan Israel, pasar masih mencermati potensi eskalasi yang melibatkan Iran.

Ketidakpastian tersebut dinilai berpotensi mengganggu jalur perdagangan energi global dan memengaruhi pasokan minyak serta gas alam cair dunia.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai konflik yang berkepanjangan telah mengganggu sebagian besar jalur pengiriman di kawasan Teluk.

Dampaknya, harga energi global mengalami kenaikan dan mendorong investor mencari instrumen investasi yang lebih aman, termasuk dollar AS.

Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati kebijakan perdagangan terbaru Presiden AS Donald Trump.

Pemerintah AS mengubah tarif impor sejumlah komoditas seperti tembaga, aluminium, dan besi, serta menetapkan tarif baru untuk beberapa peralatan industri dan pertanian.

Kebijakan tersebut diperkirakan akan memperkuat daya saing industri domestik AS sekaligus meningkatkan daya tarik dollar AS di pasar global.

Dari dalam negeri, data ekonomi menunjukkan sejumlah sentimen yang beragam.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Mei 2026 sebesar 0,28 persen secara bulanan, lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang sebesar 0,13 persen. Sementara itu, inflasi tahunan tercatat 3,08 persen.

Di sisi lain, sektor manufaktur menunjukkan perbaikan. Data S&P Global mencatat Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik ke level 50,0 pada Mei 2026 dari 49,1 pada April 2026.

Meski demikian, pelaku industri masih menghadapi tantangan berupa kenaikan biaya bahan baku dan gangguan rantai pasok.

Kinerja perdagangan Indonesia juga masih mencatatkan hasil positif.

BPS melaporkan surplus neraca perdagangan berlanjut hingga April 2026 dengan surplus kumulatif Januari-April mencapai 5,64 miliar dollar AS.

Capaian tersebut memperpanjang tren surplus perdagangan Indonesia selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Untuk perdagangan Rabu (3/6/2026), Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif, namun cenderung berada dalam tekanan.

Ia memprediksi nilai tukar rupiah akan bergerak pada kisaran Rp 17.840 hingga Rp 17.900 per dollar AS seiring masih kuatnya sentimen eksternal yang memengaruhi pasar keuangan global pada saat ini (**)

Komentar0

Type above and press Enter to search.