Hari Ini, Rupiah Kembali Ditutup Melemah ke Level Rp17.744 Dolar AS.(dok, antara)
GoSumatera.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp17.744 pada perdagangan hari ini, Senin (25/5/2026). Rupiah melemah 27 poin atau 0,15 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.717.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan, melemahnya rupiah dipengaruhi faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal melemahnya rupiah akibat konflik AS dengan Iran semakin mencapai kesepakatan damai.
Namun, masih ada sejumlah perselisihan terkait penutupan Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump menyebutkan negosiasi pihak AS dengan Iran diprakarsai Pakistan.
“Nah, di sisi lain pun juga bahwa Iran kemungkinan besar akan membuka Selat Hormuz. Tetapi Amerika sendiri di Selat Oman, ya, di Laut Oman, kemungkinan besar masih akan terus menutup diri, ya, sebelum benar-benar kesepakatan tersebut ditandatangani antara pihak Amerika dan pihak Iran,” ucap Ibrahim dalam keterangannya, Senin (25/4/2026).
Ibrahim memperkirakan kesepakatan AS dengan Iran tidak akan tercapai. Mengingat, masih ada persoalan selain penutupan Selat Hormuz, yakni dana Iran yang dibekukan sejak 1970-an serta stok uranium.
Di satu sisi, ia menyatakan Bank Sentral AS berpeluang menaikkan suku bunga. Sebab, Bank Sentral AS menyatakan bahwa ekspektasi inflasi menyimpang dari target.
“Kemudian, Kevin Warsh sendiri sebagai Gubernur Bank Sentral Amerika, dia mengatakan, ya, bahwa tidak naif, ya, tentang tantangan yang dihadapinya. Kemungkinan besar Kevin Warsh akan menaikkan suku bunga kalau inflasi masih cukup tinggi,” tuturnya.
Ibrahim melanjutkan, faktor internal melemahnya rupiah, yakni defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang menjadi kekhawatiran pasar. Lalu, meski harga minyak dunia menurun, pasar belum memberikan sentimen positif terhadap nilai tukar rupiah yang kian melemah.
Menurut dia, nilai tukar mata uang asing selain Indonesia justru menguat. Sementara itu, pidato Presiden Prabowo Subianto terkait pembentukan badan baru khusus ekspor mendapatkan kecaman nasional hingga internasional.
Lembaga pemeringkat internasional, S&P Global, dan lainnya berpotensi menurunkan rating utang Pemerintah Pusat. Ibrahim melanjutkan, kebijakan pemerintah saat ini juga cenderung tidak memberikan dampak langsung kepada masyarakat.
“Tentang kebijakan-kebijakan yang kurang pro, ya, terhadap pasar. Ya, ini yang membuat kemungkinan besar rupiah ini masih akan terus mengalami pelemahan. Dan pelemahan ini kemungkinan akan berlanjut besok, ya, ada 50-60 poin pelemahan,” tuturnya.(**)
Komentar0