Kabar Perang AS-Iran: Otoritas Teheran Sebut Trump Bohong Soal Iran Minta Damai.(dok, ilustrasi fb)
GoSumatera.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim bahwa Iran telah meminta gencatan senjata. Namun, hal tersebut ditentang oleh Teheran. Kredibilitas informasi Trump dipertanyakan.
Trump mengungkap klaim tersebut melalui media sosial miliknya pada Rabu (1/4/2026). Ia menulis bahwa pembukaan Selat Hormuz akan segera terjadi dan memuji "presiden rezim baru Iran".
"Presiden Rezim Baru Iran, yang kurang radikal dan jauh lebih cerdas daripada pendahulunya, baru saja meminta Gencatan Senjata kepada Amerika Serikat!" tulis Trump.
Pernyataan itu membingungkan banyak pihak. Salah satunya karena gelar presiden di Iran kini diampu oleh Masoud Pezeshkian dan ia menjabat sejak 2024 hingga kini.
"Kami akan mempertimbangkan kapan Selat Hormuz terbuka, bebas, dan bersih. Sampai saat itu tiba, kita akan menghancurkan Iran hingga terlupakan atau, seperti yang mereka katakan, kembali ke Zaman Batu!!!" tulis Trump lagi.
Trump memberikan penjelasan lebih lanjut tentang klaimnya ini. Namun, Teheran menentang klaim Trump. Seturut CBC, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyebutnya "salah dan tidak berdasar".
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi baru-baru ini telah mengisyaratkan kesediaan Teheran untuk terus berperang.
"Anda tidak dapat berbicara kepada rakyat Iran dengan bahasa ancaman dan tenggat waktu. Kami tidak menetapkan tenggat waktu untuk membela diri," katanya.
Melansir Al Jazeera, seorang pejabat senior Iran juga membantah klaim Trump tersebut. Menurutnya, tak ada permintaan gencatan senjata apa pun.
Pernyataan Trump Ngelantur
Klaim Trump tentang gencatan senjata juga membingungkan untuk ditafsirkan sebagai berita baik atau buruk, kata Mohamad Elmasry, seorang profesor di Institut Studi Pascasarjana Doha. Menurutnya, Trump telah "memberi harapan dalam satu tarikan napas dan ... mengambilnya kembali di saat berikutnya".
Menurut Elmasry, Trump menyebut gencatan senjata, namun juga peningkatan eskalasi konflik.
"Bahasa yang dia gunakan sangat penting. Kemarin, dia mengatakan ingin membom Iran hingga kembali ke Zaman Batu, dan sekarang dia menggunakan bahaya yang keras [seperti membom] mereka hingga hancur lebur," katanya.
"Ini tidak terlalu menggembirakan, terutama jika Anda mempertimbangkan konteks bahwa Israel dan Amerika Serikat telah menyerang ratusan sekolah dan rumah sakit [di Iran] dan ribuan rumah penduduk," tambah Elmasry.
Sementara itu, pemerintahan Trump kini mulai menghadapi tekanan domestik imbas perang di Iran. Lonjakan harga energi global telah berdampak langsung ke masyarakat AS dan ide untuk terus melanjutkan perang juga mulai ditentang publik.
Trump dijadwalkan melakukan pidato pada hari ini, Kamis (2/4/2026). Gedung Putih memberikan keterangan pidato ini sebagai "pembaruan penting tentang Iran". Namun, banyak pihak memprakirakan bahwa Trump tak akan bicara tentang penghentian perang.
Sejauh ini, setidaknya 1.937 orang telah terbunuh di Iran akibat perang. Sebanyak 24.800 mengalami luka dan International Organization for Migration menyebut sekitar 180.000 keluarga harus mengungsi karena alasan yang sama.
Sedangkan 13 personel militer AS terbunuh dan 200 lainnya terluka. Puluhan korban terbunuh juga dilaporkan di negara-negara Teluk.
Konflik ini juga meluas ke Lebanon dan Irak. Jumlah manusia yang terbunuh di kedua negara itu melonjak sejak Israel melancarkan serangan ke daerah perbatasan. Setidaknya 1.268 orang di Lebanon terbunuh dan 106 orang di Irak terbunuh.(**)
Komentar0