TUCoGUAlTSz7GSroTUrlBSAlGA==

Mengapa Awal Ramadan Indonesia dan Arab Saudi Sering Berbeda? Ini Penjelasannya

Mengapa Awal Ramadan Indonesia dan Arab Saudi Sering Berbeda? Ini Penjelasannya.(dok, AI Dola)

GoSumatera.com - Awal Ramadan tahun ini berbeda. Setelah melalui sidang isbat, pemerintah akhirnya menetapkan 1 Ramadan jatuh pada tanggal 19 Februari 2026. Sementara warga Muhammadiyah telah memulai puasa pada hari ini 18 Februari 2026 atau sama dengan negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Qatar dan lainnya.

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengimbau agar perbedaan penetapan awal Ramadan tidak diperdebatkan secara berkepanjangan. Menurutnya, perbedaan merupakan bagian dari dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Jadikanlah perbedaan itu sebagai satu konfigurasi yang sangat indah. Indonesia sudah berpengalaman berbeda tapi tetap utuh dalam sebuah persatuan yang sangat indah,” kata Nasaruddin saat jumpa pers di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (17/2/2026).

Nasaruddin berpandangan perbedaan penetapan awal Ramadan justru dapat menjadi simbol kebersamaan umat Islam di Indonesia, sekaligus mencerminkan semangat persatuan sebagai sesama anak bangsa dalam menyongsong masa depan yang lebih baik.

“Tentunya kita semua berharap semoga keputusan ini memungkinkan seluruh umat Islam di Indonesia untuk memulai ibadah puasanya secara bersama-sama,” ujarnya.

Penjelasan Ahli 

Penentuan awal Ramadan atau Idul Fitri di Indonesia memang sering kali berbeda dengan Arab Saudi. Mengapa demikian? Berikut penjelasan Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika dari Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin.

Thomas mengungkapkan perbedaan penentuan tersebut bukan disebabkan oleh kriteria yang berbeda, tetapi lebih disebabkan oleh perbedaan keputusan antara pemerintah kedua negara.

“Prinsipnya, semakin ke barat, negara-negara yang lebih barat itu lebih bisa melihat posisi bulan yang lebih tinggi dan jarak bulan yang lebih jauh dari posisi matahari,” jelasnya dikutip dari TEMPO.

Secara teori, wilayah barat lebih berpotensi melihat hilal lebih besar dibandingkan dengan wilayah timur. “Jadi sebenarnya wajar ketika di Arab Saudi itu sudah terlihat hilal, padahal di Indonesia belum (terlihat),” ujarnya.

Thomas menjelaskan perbedaan keputusan biasanya juga terjadi saat umat Islam di Indonesia dan Arab Saudi menjalankan puasa sunah Arafah setiap musim haji pada 9 Zulhijah.

"Bisa terjadi di Arab Saudi itu awal Zulhijah-nya lebih dahulu daripada di Indonesia. Sehingga, 9 Zulhijah-nya untuk hukum di Arab Saudi itu lebih dahulu dibandingkan 9 Zulhijah di Indonesia untuk puasa Arafah. Jadi itu lebih ke arah perbedaan keputusan,” tuturnya.

Menurut dia, hal ini juga dipengaruhi oleh keputusan pemerintah Arab Saudi, yang menekankan pada hasil rukyat dan tidak harus menunggu atau melihat konfirmasi dari hisab.

Dengan berbagai perkembangan metode dan teknologi, Thomas berharap penentuan awal bulan Hijriah bisa semakin akurat dan diterima oleh berbagai pihak. Sebab, kata dia, baik metode hisab maupun rukyat memiliki tujuan yang sama, yaitu memastikan ketepatan dalam menjalankan ibadah sesuai syariat Islam.

Thomas mengatakan ilmu astronomi dan ilmu falak berperan penting dalam menentukan posisi hilal secara ilmiah.

Menurut dia, astronomi adalah ilmu yang mempelajari benda-benda langit, termasuk pergerakan matahari dan bulan, sedangkan ilmu falak merupakan bagian dari astronomi yang dikaitkan dengan dalil-dalil syariat untuk keperluan ibadah umat Islam.

'Dalam menentukan hilal, ilmu astronomi digunakan untuk menghitung posisi bulan, tinggi hilal, serta jarak bulan dari matahari untuk memprediksi apakah hilal dapat teramati atau tidak,” ujar Thomas.

Dia menyebutkan, dalam Islam, penentuan awal bulan Hijriah awalnya dilakukan melalui metode rukyat atau pengamatan hilal langsung. Hal ini didasarkan pada hadis Nabi Muhammad SAW, yaitu “Berpuasalah jika melihat hilal dan berbukalah jika melihat hilal".

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, metode hisab atau perhitungan astronomi mulai digunakan untuk memperkirakan posisi hilal sebelum dilakukan pengamatan.

Thomas menegaskan metode hisab telah berkembang sangat pesat dan memiliki tingkat akurasi tinggi. “Saat ini, perhitungan astronomi sudah sangat akurat, bahkan untuk gerhana matahari atau bulan dapat dihitung hingga hitungan detik,” katanya.

Meskipun hisab sangat akurat, sebagian besar umat Islam masih menginginkan pembuktian dengan rukyat. Perbedaan penetapan awal bulan Hijriah sering kali bukan disebabkan oleh perbedaan metode hisab dan rukyat, melainkan karena adanya perbedaan kriteria yang digunakan oleh berbagai organisasi Islam dan pemerintah.

Di Indonesia, misalnya, kriteria yang digunakan oleh pemerintah berbeda dengan Muhammadiyah, tetapi sama dengan beberapa ormas Islam lainnya. Perbedaan ini menyebabkan perbedaan dalam menentukan awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha.

Selain itu, kata dia, faktor geografis dan kondisi cuaca juga berpengaruh dalam metode rukyat. Hilal yang sangat tipis dapat terhalang oleh cahaya senja atau cuaca mendung, sehingga sulit diamati dengan mata telanjang.

"Salah satu tantangan terbesar dalam rukyat adalah kontras cahaya. Hilal sangat tipis dan sering kali kalah terang dibandingkan cahaya senja,” kata Thomas.

Untuk mengatasi kendala ini, teknologi astronomi terus dikembangkan guna meningkatkan keakuratan pengamatan hilal. Salah satu teknologi yang kini digunakan adalah teleskop dengan kamera digital dan pemroses citra image stacking, yang dapat meningkatkan kontras citra hilal dengan cara menumpuk ratusan gambar dalam satu frame.

“Teknologi ini memungkinkan hilal yang sangat redup dapat terlihat lebih jelas,” katanya.

Mengenai perkembangan terbaru, Thomas mengungkapkan sejak 2021 pemerintah dan ormas Islam di Indonesia telah memperbarui kriteria penentuan hilal, yakni tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Muhammadiyah yang sebelumnya menggunakan kriteria kalender Hijriah global tunggal, kini kembali menggunakan metode wujudul hilal. Meski demikian, perbedaan penetapan awal bulan Hijriah kemungkinan tetap akan terjadi.(**)

Komentar0

Type above and press Enter to search.