Demonstran Bakar Puluhan Masjid di Iran, Ayatollah Khamenei Tuduh AS Terlibat.(dok, net)
GoSumatera.com - Aksi demonstran di Iran membakar masjid dan meneriakkan slogan-slogan anti-rezim selama protes terbesar di negara itu dalam tiga tahun terakhir.
Video yang beredar di media sosial menunjukkan salah satu masjid terbesar di Iran dilalap api dan menjadi viral. Kebenaran video tersebut belum dapat dikonfirmasi.
Wali Kota Teheran, Alireza Zakani, mengatakan bahwa setidaknya 25 masjid telah dibakar dan banyak infrastruktur lainnya dirusak selama demonstrasi.
"Satu rumah sakit rusak, dua pusat medis dan 26 bank dijarah, 25 masjid dibakar, serta pos penegak hukum dan markas besar (pasukan Korps Garda Revolusi Islam) Basij diserang," katanya di televisi pemerintah Iran, sebagaimana dilansir TASS.
Sebelumnya, demonstran juga dilaporkan membakar kitab suci Al-Quran dan berusaha menyerang masjid dalam sebuah demonstrasi di distrik Sadaf, Kota Hamadan, bagian barat Iran. Namun, aksi tersebut berhasil dihentikan.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam komentar pertama sejak protes meletus pada 3 Januari, menyebut para demonstran sebagai “perusak” dan “penyabot”.
Khamenei juga menuduh keterlibatan Amerika Serikat (AS) dalam demonstrasi terbaru ini, dengan mengatakan bahwa tangan Presiden AS Donald Trump “berlumuran darah lebih dari seribu warga Iran.”
Sementara itu, Reza Pahlavi, pangeran Iran yang diasingkan, mendesak Trump untuk campur tangan dalam pemberontakan yang telah menyebabkan bentrokan antara demonstran dan petugas keamanan.
Gelombang protes kedua dimulai awal pekan ini setelah Pahlavi mendorong warga untuk bersuara menentang Republik Islam Iran, karena negara tersebut menghadapi kesulitan ekonomi yang parah.
Protes saat ini, gelombang perbedaan pendapat terbesar dalam tiga tahun terakhir, dimulai bulan lalu di Grand Bazaar Teheran dengan para pemilik toko mengecam jatuhnya nilai mata uang rial.
Aksi protes di Iran telah berlangsung sejak Desember 2025. Puluhan orang dilaporkan tewas, dan ribuan lainnya ditangkap.
Aksi protes dipicu oleh krisis ekonomi yang melanda Iran sejak akhir Desember.
Demonstrasi dimulai di ibu kota Iran, Teheran, pada tanggal 28 Desember 2026 dan sejak itu telah menyebar ke lebih dari 574 lokasi di seluruh 31 provinsi Iran, menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat (AS).
Laporan HRANA pada Jumat (9/1/2026) menginformasikan, 116 orang tewas dan setidaknya 2.638 orang demonstran telah ditahan pemerintah, lapor HRANA.
Laporan Sky News, protes tampaknya tidak mereda. Pada 9 Januari 2026, pemerintah Iran menerapkan pemadaman internet nasional, sehingga panggilan telepon tidak dapat menjangkau negara tersebut, penerbangan dibatalkan, dan situs web berita Iran hanya sesekali memperbarui informasi.
Demonstrasi anti-pemerintah ini berpotensi menjadi tantangan terbesar yang pernah dihadapi penguasa Iran sejak Revolusi Islam 1979 - ketika mantan pemimpin tertinggi Ayatollah Ruhollah Khomeini mendirikan teokrasi Syiah di Iran.
Apa penyebab demonstrasi?
Demonstrasi dimulai pada 28 Desember ketika pemilik toko dan pedagang pasar di Teheran melakukan pemogokan karena mata uang Iran mencapai titik terendah sepanjang masa terhadap dolar AS.
Ekonomi Iran telah menderita selama bertahun-tahun dan masalah tersebut semakin diperparah setelah Donald Trump memberlakukan kembali sanksi AS pada tahun 2018 selama masa jabatan pertamanya sebagai presiden dan mengakhiri kesepakatan internasional mengenai program nuklir negara tersebut.
Sanksi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa juga diberlakukan kembali terhadap negara tersebut pada September 2025.
Krisis ekonomi yang berkepanjangan di negara itu semakin memburuk setelah Israel dan AS melancarkan serangan terhadap Republik Islam Iran pada Juni 2025, dalam perang 12 hari yang menargetkan beberapa situs nuklir Iran.
Iran menegaskan program energi nuklirnya sepenuhnya tidak berbahay dan mengklaim tidak pernah mencoba membangun bom nuklir.
Meskipun protes awalnya berfokus pada ekonomi, protes tersebut kemudian meluas ke isu-isu politik yang lebih luas. Para demonstran mulai meneriakkan pernyataan anti-pemerintah.
Rekaman dari tanggal 30 Desember 2025 menunjukkan mahasiswa universitas berbaris bersama pemilik toko dan pedagang di Teheran.
Masalah ekonomi telah menyebabkan negara ini berjuang dengan tingkat inflasi tahunan sekitar 40%. Harga barang-barang kebutuhan pokok termasuk minyak goreng, daging, beras, dan keju meningkat drastis.(**)
Komentar0