Wapres Gibran Pidato soal Ekonomi Intelijen di KTT G20 Afsel.(dok, Antara/Mentari Dwi Gayati)
GoSumatera.com - Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka mengajak negara-negara anggota G20 untuk memulai dialog tentang penerapan prinsip ekonomi intelijen. Perlu diketahui, ekonomi intelijen adalah prinsip ekonomi yang didasarkan pada pengumpulan, analisa, dan penafsiran data ekonomi untuk mendukung pengambilan keputusan strategis.
Melalui ekonomi intelijen, Indonesia percaya bahwa setiap negara berhak untuk memetakan jalur pembangunannya sendiri karena tidak ada model tunggal yang cocok untuk semua negara.
"Tidak ada yang disebut metode terbaik. Kerja sama harus memberdayakan, bukan mendikte. Kerja sama harus terangkat, bukan menciptakan ketergantungan," kata Gibran, di hadapan para pemimpin negara-negara Anggota G20 dalam gelaran KTT G20 di Johannesburg, Afrika Selatan (Afsel), dikutip akun YouTube SABC News, Sabtu (22/11/2025).
Tidak hanya itu, Indonesia juga mendorong negara-negara G20 untuk meningkatkan inklusi keuangan melalui sistem pembayaran digital. Kendati dapat meminimalkan ketidaksetaraan, namun sistem pembayaran digital juga pada saat yang sama menimbulkan peluang dan risiko, utamanya dari perkembangan teknologi seperti aset kripto, token digital termasuk Bitcoin.
"Oleh karena itu Indonesia mengusulkan agar G20 memulai dialog tentang ekonomi intelijen," ujar dia
Sementara itu, untuk mengangkat ekonomi setiap bangsa sehingga bisa setara, Indonesia juga percaya bahwa pertumbuhan global tidak hanya harus kuat tetapi juga adil dan inklusif.
"Indonesia menyambut baik fokus G20 pada keuangan berkelanjutan. Namun, sebuah misi harus melangkah lebih jauh. Untuk menutup kesenjangan dan mengejar adaptasi, mitigasi, dan transisi yang adil, dunia membutuhkan pembiayaan yang lebih mudah diakses, dapat diprediksi, dan setara," tambah Gibran.
Bagi negara-negara berkembang, hal ini dapat dilakukan melalui keringanan utang, pembiayaan inovatif, pembiayaan campuran, dan mekanisme transisi hijau. Karenanya, dalam posisi Indonesia, pemerintah telah mengalokasikan lebih dari setengah anggaran iklim nasional, yakni sekitar 2,5 miliar dolar Amerika Serikat (AS) setiap tahun.
"Untuk mendukung UMKM hijau, asuransi pertanian, dan infrastruktur yang tangguh terhadap iklim," papar politisi PSI tersebut.
Pada kesempatan yang sama, Gibran juga memuji kepemimpinan Afrika Selatan dalam gelaran G20. Bahkan, menurutnya pertemuan G20 kali ini bisa dikatakan sebagai tonggak sejarah, karena dengan kepemimpinan Afrika Selatan di G20 membuktikan bahwa negara berkembang kini tidak hanya menjadi penonton saja dalam perekonomian global.
"Ini adalah pertemuan puncak G20 yang bersejarah, yang pertama diadakan di tanah Afrika. Tonggak sejarah ini menandai pergeseran besar di mana negara-negara berkembang bukan lagi sebagai penonton, tetapi sebagai penggerak," pungkasnya.(**)
Komentar0