OPINI, GoSumatera - Setelah dilanda musim kemarau panjang, beberapa daerah di Provinsi Sumatera Barat sudah memasuki siklus musim hujan.
Hal itu juga dirasakan di Bukittinggi. Kota ini mulai berada dalam periode musim hujan. Kota wisata yang dikenal dengan udara sejuk dan pemandangan indah ini kembali harus menghadapi tantangan alam yang tidak ringan.
Memasuki bulan September ini, dengan curah hujan yang cukup tinggi, disertai angin kencang, seolah menjadi ujian tahunan yang menimbulkan berbagai persoalan klasik, seperti genangan air di jalan, banjir lokal di pemukiman, jalan berlubang, hingga sampah yang terbawa arus ke saluran drainase.
Pertanyaan pun muncul: sudahkah Pemko Bukittinggi bersiap menghadapi musim hujan tahun ini?
Beberapa keluhan masyarakat yang kerap muncul saat musim hujan antara lain:
Drainase tersumbat. Setiap kali hujan deras, air cepat sekali meluap. Saluran pembuangan yang dangkal mengakibatkan banyak sampah menumpuk. Akhirnya debit air meluap, bahu dan badan jalan tergenang, pedagang kecil pun ikut terdampak, banyak pelanggan mereka yang enggan datang.
Jalan rusak dan licin. “Lubang kecil berubah besar, jalan aspal jadi licin. Saat malam jika hujan deras, bahaya sekali,” kata Andre seorang pengendara ojek online.
Banjir lokal di pemukiman
“Air masuk rumah, anak-anak susah belajar, kami juga takut perabot rusak,” keluh seorang ibu rumah tangga di Anak Aia, Kecamatan Mandiangin Koto Selayan.
Kurangnya informasi darurat
“Kadang kami tahu ada bahaya setelah kejadian, padahal butuh peringatan dini untuk memgantisipasi kemungkinan terburuk,” ujar seorang Andi salah seorang pemuda di Kelurahan Puhun Tembok.
Air bersih terlambat datang
“Kalau banjir, air sumur sudah keruh semua. Baru hari kedua atau ketiga PDAM menyalurkan air bersih. Padahal air itu kebutuhan utama. Kami berharap pemerintah lebih cepat tanggap,” tutur Vivi seorang warga di Kelurahan Sapiran.
Analisis dan Catatan Penulis
Masalah-masalah ini sebetulnya bukan hal baru. Hampir setiap musim hujan, keluhan yang sama muncul dari warga. Itu artinya, belum ada langkah permanen yang tuntas dilakukan.
Beberapa hal penting yang seharusnya menjadi prioritas Pemko Bukittinggi:
Perbaikan dan normalisasi drainase.
Pemeliharaan infrastruktur jalan.
Penyediaan sistem peringatan dini.
Ketersediaan air bersih darurat.
Kolaborasi dengan masyarakat.
Harapan dari Warga untuk Pemko
Dari berbagai keluhan, satu benang merah bisa ditarik, masyarakat menginginkan respon cepat dan nyata. Bukan sekadar seremonial rapat koordinasi atau imbauan, tetapi langkah konkret di lapangan.
Harapan itu sederhana
Saat hujan deras, drainase tidak tersumbat.
Saat jalan rusak, segera diperbaiki.
Saat banjir, posko darurat cepat hadir.
Dan yang paling penting, air bersih segera tersedia tanpa harus menunggu berhari-hari.
Di sisi lain, masyarakat juga diingatkan untuk ikut menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah ke saluran air dan sungai. Kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat akan jauh lebih efektif jika kedua belah pihak sama-sama peduli dan bergerak.
Penutup
Musim hujan bukanlah bencana jika pemerintah dan masyarakat sama-sama siap. Pemko Bukittinggi diharapkan mampu menjawab keluhan warga dengan kerja nyata, bukan sekadar janji. Kesigapan menghadapi musim hujan akan menjadi bukti hadirnya pemerintah di tengah masyarakat.
Karena pada akhirnya, hujan tidak bisa kita hentikan, tetapi dampaknya bisa kita kendalikan bersama.
Penulis :(🚩d’Ane)
Komentar0