TUCoGUAlTSz7GSroTUrlBSAlGA==

Ini Penyebab Thailand dan Kamboja Berperang serta Sejarahnya

(doc, net)


GoSumatera -- Konflik Thailand dan Kamboja belakangan ini berhasil menyita perhatian publik di seluruh dunia. Salah satu alasannya yang mungkin kerap dipikirkan oleh sebagian orang adalah tentang penyebab Thailand perang dengan Kamboja.

Dikutip dari Al-Jazeera, telah terjadi bentrokan yang sengit, pengeboman, dan penembakan yang melibatkan Thailand dan Kamboja. Bahkan pertempuran antara Thailand dan Kamboja ini telah merenggut korban jiwa. Hal tersebut dijelaskan oleh Kementerian Kesehatan Thailand yang menyatakan setidaknya ada 32 warga sipil dan 14 tentara terluka. Bukan hanya itu saja, akibat dari pertempuran dengan Kamboja, 13 warga sipil dan 1 tentara dinyatakan tewas.

Menteri Kesehatan Thepsuthin Somsak mengatakan, tindakan yang dilakukan oleh Kamboja bisa dibilang sebagai kejahatan perang. Bahkan akibat dari pertempuran ini ada puluhan ribu warga sipil yang harus dievakuasi. Tidak sedikit di antara mereka yang harus bersembunyi di tempat perlindungan bom yang terbuat dari beton dan dilengkapi dengan karung pasir maupun ban mobil.

Di sisi lain Perdana Menteri Kamboja Hun Manet tidak mengambil tindakan diam. Sebaliknya, dirinya meminta agar diadakannya pertemuan yang mendesak bersama dengan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ini dilakukan sebagai tanggapan atas serangan yang diberikan oleh Thailand. Pihaknya menyebut hal tersebut sebagai sesuatu yang dapat mengancam perdamaian di kawasan.

Kondisi yang tengah dialami oleh dua negara ini membuat tidak sedikit orang merasa penasaran dengan alasan di balik konflik tersebut bisa terjadi. Untuk memberikan gambaran bagi detikers, artikel ini akan merangkum penjelasan kenapa Thailand perang dengan Kamboja secara ringkas. Simak baik-baik penjelasannya berikut ini.
Sejarah Konflik Thailand dan Kamboja
Lantas, bagaimana awal mula konflik Thailand dan Kamboja bisa mencetus? Dihimpun dari laman Stanford University, perang Thailand dan Kamboja yang dipicu oleh sengketa Kuil Preah Vihear sudah terjadi puluhan tahun yang lalu. Kuil Preah Vihear sendiri merupakan bangunan yang telah ada sejak abad ke-11 dan ke-12 di masa-masa keemasan Kekaisaran Khmer.

Untuk diketahui, bangsa Khmer merupakan nenek moyang dari orang Kamboja. Meskipun begitu, keberadaan Preah Vihear tidak selalu berada di bawah kendali Kamboja. Sebaliknya, pada masa itu, kekaisaran yang memerintah juga diduduki oleh kerajaan-kerajaan Siam dan juga negara Thailand modern yang menggantikannya.

Hal ini membuat kekaisaran Khmer dan kerajaan Siam memiliki sejarah panjang yang berkaitan satu sama lain. Bahkan tahun demi tahun, kekaisaran Khmer dan kerajaan Siam turut saling berebut kekuasaan, termasuk pada Preah Vihear ini. Meskipun sempat diduduki oleh kekaisaran Khmer, beberapa wilayah di kawasan Kamboja sempat berhasil direbut oleh kerajaan Siam.

Tak sampai di situ saja, kedatangan pasukan dari negara Prancis membuat peta topografi yang dibuat tahun 1907 menunjukkan perbatasan wilayah yang berada di sekitar Preah Vihear berada di sisi Kamboja. Namun demikian, pihak Siam tidak menyetujuinya. Bahkan Thailand modern secara terang-terangan berusaha merebut Preah Vihear di masa perang dengan Jepang, tepatnya di tahun 1941 silam.

Lebih lanjut, di tahun 1954 pasukan Thailand pindah ke Preah Vihear setelah pasukan lawan berhasil mundur. Namun demikian, Kamboja yang sudah merdeka menyatakan keberatan atas tindakan tersebut. Pihak Kamboja bahkan mengajukan gugatan kepada Mahkamah Internasional sebagai bentuk sikap atas tindakan yang dilakukan Thailand.

Sebaliknya, pihak Thailand juga tidak tinggal diam. Mereka memiliki keyakinan yang tak kalah kuat peta topografi yang dibuat Prancis di tahun 1907 silam tidak mengikat secara hukum dan tidak benar-benar disahkan oleh komisi gabungan. Bahkan Thailand memiliki bukti atas kendali de facto bahwa kuil Preah Vihear lebih mudah diakses dari sisi perbatasan Thailand.

Namun demikian, Mahkamah Internasional di tahun 1962 justru mengeluarkan keputusan 9 banding 3 yang menguntungkan pihak Kamboja. Meskipun begitu, keputusan yang dikeluarkan oleh Mahkamah Internasional tidak berkaitan dengan isu sensitif berupa hak warisan atau kepemilikan budaya. Hal ini dimaksudkan agar mungkin guna menghindari konflik secara diplomatik.

Tahun-tahun berikutnya sebenarnya pemerintah Thailand dan Kamboja sempat mengambil langkah agar memungkinkan wisatawan untuk berkunjung ke Kuil Preah Vihear. Sayangnya, di tahun 2008 lalu, sengketa terkait lokasi tersebut kembali mencuat antara Thailand dan Kamboja.

Terlebih muncul rencana pihak Kamboja mendaftarkan Kuil Preah Vihear sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Di sisi lain Thailand menolak karena menganggap wilayah sekitar kuil adalah milik negara mereka. Di tahun yang sama, akhirnya UNESCO mengabulkan usulan Kuil Preah Vihear sebagai Situs Warisan Dunia.

Tak hanya memicu situasi diplomatik yang mengalami ketegangan, sengketa antara Thailand dan Kamboja juga menimbulkan bentrok. Ini dimulai pada tahun 2009 yang mana menyebabkan adanya korban luka dan kehilangan nyawa.

Itulah tadi ulasan mengenai situasi yang tengah terjadi antara Thailand dan Kamboja. Semoga dapat menambah wawasan baru bagi kita semua.(**)

Komentar0

Type above and press Enter to search.