180 Orang Terluka dalam Serangan Iran di Dekat Situs Nuklir Israel.(dok, fb)
GoSumatera.com - Serangan rudal Iran menghantam wilayah dekat fasilitas nuklir utama Israel di Kota Dimona dan wilayah Arad pada Sabtu (21/3/2026). Insiden ini menyebabkan sedikitnya 180 orang terluka dalam salah satu eskalasi paling dramatis sejak perang antara Amerika Serikat Israel melawan Iran pecah empat pekan lalu.
Dikutip dari Al Jazeera, Minggu (22/3/2026), Kementerian Kesehatan Israel melaporkan sebanyak 116 orang terluka di Arad, termasuk tujuh orang dalam kondisi serius, dengan kerusakan luas terjadi di pusat kota.
Sementara itu, di Dimona, sebanyak 64 orang terluka, dengan satu orang dalam kondisi serius akibat hancurnya sejumlah bangunan tempat tinggal.
Televisi pemerintah Iran menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan tanggapan atas serangan terhadap kompleks pengayaan nuklir Natanz milik Iran yang terjadi pada hari yang sama. Hal ini menandai fase baru yang tajam dalam konflik saling serang yang kini memasuki minggu keempat.
"Televisi pemerintah Iran membingkai serangan hari Sabtu sebagai 'tanggapan' atas apa yang disebutnya sebagai serangan terhadap kompleks pengayaan nuklir Natanz milik Iran sebelumnya pada hari itu, yang menandai fase baru yang tajam dari aksi saling serang dalam konflik tersebut, yang kini memasuki minggu keempat," tulis Al Jazeera.
Juru bicara militer Israel mengakui sistem pertahanan udara telah diaktifkan, namun gagal mencegat beberapa rudal yang menghantam sasaran secara langsung.
Pihak pemadam kebakaran mengonfirmasi bahwa rudal-rudal tersebut berhasil menembus sistem pertahanan. "Di Dimona dan Arad, pencegat diluncurkan namun gagal mengenai ancaman tersebut, mengakibatkan dua serangan langsung oleh rudal balistik dengan hulu ledak seberat ratusan kilogram," ungkap petugas pemadam kebakaran sebagaimana dikutip Al Jazeera.
Meski serangan terjadi di dekat fasilitas nuklir, Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) memastikan tidak ada indikasi kerusakan pada Pusat Penelitian Nuklir Shimon Peres di Dimona dan tidak ditemukan tingkat radiasi yang tidak normal. Terkait potensi eskalasi lebih lanjut, Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, mendesak agar semua pihak menahan diri.
"Pengekangan militer maksimum harus diperhatikan, khususnya di sekitar fasilitas nuklir," tegas Grossi.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut malam tersebut sebagai momen sulit bagi negaranya. Berdasarkan data media pemerintah Iran, konflik sejak 28 Februari tersebut telah menewaskan lebih dari 1.500 orang, termasuk lebih dari 200 anak-anak.
Di sisi lain, Kementerian Kesehatan Israel mencatat setidaknya 4.564 orang telah dievakuasi ke rumah sakit sejak awal perang. Dari jumlah tersebut, 124 orang masih dirawat di rumah sakit, dengan satu orang dalam kondisi kritis dan 13 orang dalam kondisi serius.(**)
Komentar0