TUCoGUAlTSz7GSroTUrlBSAlGA==

Ternyata Bisa Hidup dari Menulis

(dok, fb ms)

ARTIKEL, GoSumatera -- BUKU “Mengarang itu Gampang” karya Arswendo Atmowiloto yang saya temukan di perpustakaan umum di kota Lhokseumawe, Aceh, pada pertengahan tahun 90-an membawa saya suka menulis. Buku itu bagai sebuah magnet yang menarik minat saya menekuni hobi yang sebenarnya tidak cukup menarik di awal saya mencengkeramainya.

Tapi kesukaan pada membaca sejak SD kemudian berlanjut hingga SMA, didorong banyaknya majalah dan buku sastra terbitan Balai Pustaka di perpustakaan sekolah, mendorong saya untuk selalu berakrab-akrab dengan pena, kertas, dan mesin tik.

Mesin tik adalah benda mewah yang paling saya impikan. Harganya yang mahal dan tidak didukung oleh ekonomi keluarga membuat saya sering mengigau, kapanlah bisa memiliki mesin itu. Untunglah ada seorang kawan baik hati, satu sekolah satu pengajian, mau meminjamkan mesin tiknya. Kadang lama juga mesin tik itu nangkring di rumah saya, yang suara bisingnya saat saya mengetik bikin telinga emak merah dan wajahnya marah. Terlompat juga kata-kata di mulutnya, “Ketak-ketik setiap hari itu berisik. Ada kau dapat uang?”

Itulah ujian pertama yang saya hadapi ketika bersentuhan dengan dunia antah-berantah ini: tulis-menulis. Suara emak memperlihatkan ketidaksukaannya pada aktivitas menulis saya.

Zaman itu zaman susah. Aceh sedang tidak baik-baik saja. Kontak senjata sering terjadi. Pekerjaan sulit. Sekolah pun tidak nyaman. Sebab itu pula akhirnya, setamat SMA saya pilih merantau ke Padang. Syukurlah kini Aceh sudah damai lagi.

Di rantau, tahun-tahun pertama sangat tidak aman. Sebab saya tidak membawa badan sendiri, ada ibu dan adik-adik yang harus diselamatkan sepeninggal ayah. Saya harus bekerja. Mencari uang. Tapi banyak pekerjaan menutup pintunya buat anak baru tamat SMA seperti saya. Di titik itu saya berpikir, pekerjaan apa yang bisa saya lakukan tapi tidak jauh dari hobi saya: membaca dan menulis.

Muncullah hasrat hendak bersungguh-sungguh menulis. Bukan sekadar menulis untuk menghilangkan suntuk, tapi menulis untuk menghasilkan uang.

Di tahun-tahun awal merantau itu, di tengah kesulitan hidup yang telah sampai di puncaknya, saya betul-betul menekadkan diri menulis sebanyak-banyaknya. Tulisan itu saya kirim ke koran-koran di Padang, yang tentu pada awal-awal itu pula, tak sedikit tulisan ditolak. Nyaris saya menyerah.

Syukurlah, tak ada kata menyerah itu. Tiba-tiba saya ingat kata guru bahasa Indonesia saya—yang sebab dia pula saya terdorong mengirim naskah pertama ke koran di Aceh. Kata-katanya terngiang, “Kalau kau berhenti, semua selesai.”

Saya tak mau selesai. Apa yang telah saya mulai, harus saya tuntaskan dengan sukses.

Akhirnya, setelah mengirim banyak tulisan, beberapa dimuat, dari satu koran ke koran lainnya. Honor koran di zaman itu masih cukup sehat, bisa diandalkan untuk hidup.

Produktivitas menulis membawa saya mengenal dunia jurnalistik. Meski tidak gampang, menjadi wartawan itu asyik. Sepanjang 15 tahun di lapangan menjadi juru tinta di sejumlah media, membawa saya pada pengalaman dan perjalanan yang luar biasa. Sebagiannya saya catat dalam karya jurnalistik, sebagian yang lain saya fiksikan dalam puisi, cerpen, dan novel.

Buku Arswendo memang ajaib. Mengarang itu Gampang, meski realitanya ketika dibawa ke lapangan kehidupan, tak segampang menghadapi benturan-benturannya. Tapi mengarang itu pula yang menjadi solusi dan alternatif pekerjaan ketika pintu-pintu pekerjaan lainnya tertutup. 

Ternyata bisa hidup dari menulis.

Sampai kini, saya memilih tetap menulis, tidak bekerja di instansi mana pun, dan menulis telah menjadi jalan hidup bagi saya. Segala suka-dukanya saya jalani, seasyik-asyiknya, sambil jalan-jalan. 


Penulis
Muhammad Subhan

Komentar0

Type above and press Enter to search.